Perempuan Dengan Sebuah Kamera Polaroid

Perempuan dengan sebuah kamera polaroid, ia selalu berdiri di sudut yang sama. Dengan selembar baju hangat berwarna merah yang tak pernah luput melapisi tubuh kurusnya. Kakinya dibalut oleh sebuah celana jeans berwarna keabuan, yang robek di bagian paha, memamerkan sebuah tattoo permanen bergambar klise yang ia percaya memiliki sebuah makna. Serta sepasang sepatu boots berwarna cokelat mirip sepasang lama milik mantan kekasihnya.

Dengan kamera polaroid yang tak pernah absen dari tangan, ia menangkap apa saja. Setiap hari ia habiskan ratusan kertas foto, mengimitasi apa yang terlihat oleh mata. Ia berburu untuk lalu dibawa pulang dan dikenang.

Suatu kali lewat di hadapannya, sekumpulan anak muda yang sedang tertawa dan bercanda. Perempuan dengan cepat menekan tombol kamera berkali-kali. Ia abadikan detik-detik penuh tawa ke dalam belasan foto polaroid. Perempuan tersenyum puas, ia tak perlu lagi takut merasa sepi. Sebab kini ia memiliki teman yang akan terus tertawa bersamanya.

Lain waktu ia melihat sepasang kekasih melintas. Perempuan sempat tertegun beberapa saat, teringat masa lalu yang tak lagi ada. Diarahkannya kamera di tangan, menangkap sosok pria yang terang bukan miliknya. Dikantonginya gambar sang Pria yang sekarang akan menemani malam-malam ia merasa sendiri.

Dengan begini aku tak akan lagi sakit hati, pikirnya. Sebab kapan pun ia mulai merasa bosan, ia hanya perlu mengganti gambar tersebut dengan pria-pria lain. Maka ia pun menangkap beberapa sosok lain yang dipersiapkan sebagai pengganti kalau-kalau dibutuhkan nanti.

Di kamarnya yang nyaman, Perempuan menyusun gambar-gambar yang ia tangkap. Di dalam dunia kecilnya, ia tak lagi sendiri. Ia memiliki teman dan beberapa pria yang bergantian dapat menemani. Ia mengesampingkan ratusan perasaan ganjil di hatinya dan berpuas diri dengan imitasi realita yang ia ciptakan dengan susah payah.

Meski begitu, ia tak pernah merasa cukup. Perempuan itu selalu saja kembali ke sudut yang sama dengan sebuah kamera polaroid di tangannya. Tak letih-letih ia berburu mencari ratusan momen lain untuk ditangkap dan bawa pulang. Hingga pada satu senja yang berwarna jingga, Perempuan melihat sesosok menarik tengah duduk di seberang tempatnya berdiri.

Sosok ini begitu sibuk sendiri, menulis di sebuah buku. Perempuan mengajaknya berkenalan dan barulah ia mengetahui bahwa sosok di depannya adalah seorang Penulis. Ya, Penulis. Perempuan belum memiliki itu di dunia buatannya. Maka tanpa berpikir dua kali ia mengarahkan kamera dan menangkap sang Penulis. Tapi tak ada seorang Penulis di dalam gambar tersebut, yang ada hanya bayangan seseorang tengah duduk dengan kepala menunduk. Tentu saja, apalah penulis tanpa kalimat-kalimat indah. Perempuan merasa sedih dan bingung, ia tak tahu bagaimana cara mengimitasi kata.

Perempuan pun meminta kepada Sang Penulis untuk merangkaikannya kata. Penulis tersenyum dan menyerahkan buku yang sejak tadi ada di tangannya. Perempuan melompat girang, Penulis berpamitan dan pergi tanpa melihat ke belakang. Dibukanya buku yang telah penuh dengan tulisan tangan tersebut. Perempuan tersentak, menyadari bahwa ia sendiri tidak nyata, tak lebih dari sekadar tokoh dalam kepala. Pada kalimat pembuka di halaman pertama terbaca; Perempuan dengan sebuah kamera polaroid, ia selalu berdiri di sudut yang sama.

[The Beatles bilang, “Living is easy with eyes closed” – Banten, 13 Januari 2017.]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s