Romantika Jalan Bulan

Kulirik sekilas jam dinding yang tergantung. Mengintip melalui sela-sela rambutmu. Sambil tetap berkonsentrasi menikmati afeksi yang datang dari pertemuan dua bibir. Nafas kita mulai berat. Udara dingin di luar membuat berpelukan menjadi terasa lebih hangat. Tanganmu bergetar ketika mengusap pelan pipiku. Rasa-rasanya aku ingin menyetubuhi batinmu. Bukan, bukan tubuhmu.

Karena ketika bibir itu menyentuh milikku, tak kurasa apa-apa selain hangat yang menusuk bagian rusuk dada sebelah kiri. Entah apa namanya, kau tahu aku tak pernah ahli di bidang IPA. Kepalamu bergerak perlahan meninggalkan bibirku yang entah bagaimana mulai terasa kebas akibat aktivitas berlebihan.

Kau menggigiti telinga bagian kananku. Berbisik di sana dengan samar. Aku tak begitu dengar. Tapi setangkap, kurasa kau menyebut, sayang. Aku memelukmu kuat. Erat.

“Bisa, kita begini saja seterusnya?” tanyamu sambil mengistirahatkan kepala di pundakku.

“Tidak bekerja, tidak bersosialisasi, di kamar saja, berpelukan. Sudah?” balasku.

“Kamu masih saja pemimpi. Sama seperti SMA dulu,” lanjutku sambil menghirup aroma parfum di lehermu.

Kau menjawab dengan gumam dan helaan nafas. Kukecup keningmu, lembut, kau bilang. Bergerilya bibirku menjajah mata dan setiap inchi bagian wajahmu. Biasanya kau akan mengeluh wajahmu bau liur bertaburan. Aku tak peduli, paling hanya tertawa. Aku tahu kau suka.

Malam semakin tinggi ketika kita akhirnya berdiri dan bergegas meninggalkan ruang kotak ini. Kau menarik kursi meja rias dan memanjatnya. Berdiri lalu menarikku mendekat. Menciumku tepat di dahi.

“Repot sekali kalau setiap hari harus begini. Untuk menciummu pun aku harus memanjat kursi,” katamu mengeluh. Aku menanggapi dengan tertawa. Kita berpelukan untuk kesekian kalinya.

Di pinggir sebuah jalan sepi kau kuturunkan. Tidak ada pelukan, tidak ada kecupan. Karena akan terkesan seperti perpisahan. Kita benci itu. Kau hanya melambai sekilas sambil tersenyum memamerkan lesung pipi di kedua sisi. Aku membalas dengan angguk sekilas dan senyum tipis. Kuambil sebuah cincin emas yang kusimpan di dashboard mobil. Memakainya lagi di jari manis tangan kiri.

Kulihat melalui kaca spion tengah, kau sudah berjalan cukup jauh menghilang di balik tikungan, menuju perempatan. Bergabung bersama teman-teman seperjuanganmu di sana. Kuketik sebuah pesan singkat,

Sampai ketemu bulan depan. Aku pasti datang.

Terkirim. Kupijak gas dan mobil perlahan maju meninggalkan tempat ini.

***

[Stabat, 21 Agustus 2010]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s