Review Macaroon Love; Kisah Manis Banyak Warna

Apa rasanya membenci namamu sendiri selama 23 tahun? Apa rasanya tumbuh besar bersama seorang nenek dan seorang sepupu yang tampang dan tingkah laku supelnya dapat mengintimidasi? Apa rasanya kehilangan ibu kandung dan hanya mengenal sosok seorang ayah yang cuma ada di hidupmu selama 2 bulan setiap tahunnya? Lalu, apa rasanya berada di ujung tanduk dalam pencarian jati diri, dan menemukan semua jawaban yang kamu cari melalui mata seorang pria tampan mirip pangeran dan terlalu indah untuk menjadi nyata?

Tidak akan ada yang benar-benar tahu rasanya kecuali seorang Magali. Benar, perempuan beruntung namun merasa buntung tersebut bernama, Magali. Tokoh sentral dalam novel karya Winda Krisnadefa yang berjudul Macaroon Love.

sinopis novel Macaroon Love
sinopis novel Macaroon Love

Seperti novel pop pada umumnya, novel ini juga membawa tema ringan seperti pencarian jati diri dan penemuan cinta sejati. Namun novel kedua dari sepanjang sejarah karya tulis Winda Krisnadefa ini memiliki cukup banyak kekurangan. Unsur intrinsik pembentuk novel yang diolah terasa kurang matang.

Meski tokoh Magali sebagai protagonis ditampilkan dengan cemerlang dan konsistensi karakteristiknya terjaga dari awal halaman hingga akhir buku, namun absennya tokoh antagonis dalam buku ini menjadi salah satu penyebab utama kenapa plot dan alur cerita terasa datar.

Formula, protagonis mencoba mencapai tujuannya – dihadang oleh hambatan – bertemu tokoh yang menentang tujuannya (antagonis) – muncul konflik – penyelesaian konflik – penentuan akhir apakah si protagonis mencapai tujuannya atau tidak, tentu dibuat dengan satu tujuan. Meski bukan ukuran baku untuk menentukan kualitas, namun, formula tersebut diperlukan agar plot dan alur tergiring dengan baik.

Ketiadaan tokoh Antagonis dalam Macaroon Love membuat motif protagonis, menjadi abu-abu. Apa yang sebenarnya ia inginkan? Memiliki hidup yang normal? Pekerjaan yang mapan? Jatuh cinta? Atau sesederhana menemukan jati dirinya? Ketidakjelasan motif ini membuat pembaca sulit mengidentifikasi tokoh Magali.

Unsur pembentuk novel lain yang tidak maksimal adalah latar belakang. Setting waktu dan tempat terjadinya cerita terasa kurang nyata. Di sinilah kemampuan menulis deskriptif diperlukan oleh seorang penulis. Karena hanya dengan deskripsi yang baik, penulis dapat menarik pembaca untuk turut masuk dalam cerita.

Meski begitu, gaya bahasa Winda Krisnadefa dalam bercerita patut mendapat acungan jempol. Sang penulis tidak berusaha membuat pembaca merasa bodoh dengan istilah-istilah pintar yang tak diperlukan (seperti kebanyakan penulis saat ini). Susunan kalimat yang digunakan tidak bertele-tele dan sangat efektif.

Kemampuan untuk mengemas kisah roman berlatar kuliner juga merupakan kelebihan yang patut diapresiasi. Dari membaca sudah dapat dibayangkan proses riset yang harus dilakukan seorang Winda Krisnadefa untuk dapat membawanya ke dalam sebuah karya tulis.

macaroon love

“Kisah dalam novel ini memang dilabeli kisah roman. Tapi saya berharap pembaca bisa mendapatkan lebih dari sekadar kisah cinta antara anak manusia saja setelah membaca ini.”

Paragraf terakhir halaman terimakasih ini mengganjal di kepala saya saat mulai membaca hingga saya menutup buku Macaroon Love. Benar saja, terlepas dari pesan tentang be true to yourself, saya justru menangkap pesan berbeda melalui kekaguman Magali terhadap Ammar. Di mana semua definis tentang Ammar mengingatkan saya kepada sosok Jodhi, ayah Magali. Hal ini membawa saya pada kesimpulan, mungkin si penulis ingin mengatakan bahwa seaneh apa pun hubungan antara seorang anak perempuan dan ayahnya, tak dapat dipungkiri bahwa, Ayah akan selalu menjadi cinta pertama dari setiap anak perempuannya.

***

[Jakarta, 29 Juli 2013]

***

Promo Smartfren Juli 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s