Review Film; The Conjuring

Dengan segala komentar orang-orang yang sudah menonton dan sistem promosi yang mengelu-elukan betapa menakutkannya film ini. Mengingat bagaimana Hollywood sangat pintar membuat gimmick yang membuat orang tertarik untuk menonton film-film horror terlaris beberapa tahun belakangan. Rasanya susah buat gue untuk tidak skeptis terhadap The Conjuring.

Tapi setelah duduk selama 120 menit dan menyaksikan film arahan James Wan ini, gue ngerti kenapa The Conjuring mendapat rating R. Yep, bukan karena adegan-adegan eksplisit atau content yang terlalu vulgar, The Conjuring mendapat rating R karena terlalu seram.

Anehnya, selalu aja ada orang-orang tua yang membawa anaknya yang masih kecil untuk menonton film-film macam ini. Malam tadi, waktu gue nonton midnight di TIM, ada satu keluarga mulai dari Ayah, Bunda sampai tante dan dua anak kecil yang ikut nonton The Conjuring. Mereka adalah keluarga bahagia, yang saking bahagianya dari awal film sampai akhir mereka gak bisa berhenti teriak, terus ketawa karena mereka teriak, komentar, teriak lagi, ketawa lagi, dan seterusnya.

Apakah keberadaan mereka mengganggu? Iya, awalnya. Tapi ternyata setelah 15 menit sejak film dimulai, The Conjuring mampu mengalihkan seluruh perhatian gue dari keluarga cemara ini.

The Conjuring diangkat berdasarkan kisah nyata. Film ini bercerita tentang sepasang suami istri yang berprofesi sebagai pemburu iblis, Ed & Lorraine Warren. Mengambil latar belakang tahun ’70an di mana kedua suami istri ini tengah berjaya, The Conjuring menyorot sebuah kasus yang pernah mereka tangani. Di mana dalam kasus tersebut mereka membantu sebuah keluarga dengan lima anak perempuan manis yang secara tragis pindah ke rumah yang dulunya adalah milik seorang dukun pemuja setan.

The Conjuring memiliki semua unsur horror klasik di dalamnya. Mulai dari keluarga bahagia, keluarga yang terganggu oleh keberadaan “penghuni” rumah yang jahat, orang kerasukan, rukiyah ala katolik, pemburu iblis yang mencoba menangkap wujud iblis melalui kamera dan suara. James Wan, sang sutradara, meramu resep lama tersebut menjadi sesuatu yang benar-benar menakjubkan.

The Conjuring adalah film pertama yang bisa membuat gue ketakutan saat nonton. Biasanya, di film-film horror lain, gue bisa dengan mudah mendoktrin diri gue, “ini cuma film!” dan membebaskan pikiran gue dari rasa takut. Tapi semua komponen pembentuk The Conjuring berhasil menjerat gue masuk dan tinggal di dalam cerita sepanjang film. Bahkan keluarga cemara di belakang gue pun tidak lagi terasa mengganggu.

Gue selalu setuju dengan pendapat, bahwa film adalah sebuah karya audio-visual dan kesuksesan sebuah film dipegang oleh 2 unsur tersebut. Gue meyakini bahwa film yang baik adalah film yang jika ditonton tanpa suara atau jika dinikmati hanya dengan suara tanpa visual, harus tetap dapat membawa efek dan meninggalkan kesan yang sama. Awalnya gue sempat ragu terhadap teori ini karena dari sekian banyak film bergenre apa pun yang gue tonton, tidak ada yang bisa meninggalkan efek dan kesan tersebut jika audio dan visualnya dinikmati secara terpisah. Namun The Conjuring membuat gue kembali yakin bahwa teori tersebut memang benar adanya. Gue yakin, ketika menikmati The Conjuring tanpa suara atau mendengar audio The Conjuring tanpa melihat visualnya, penonton tetap bisa melompat dari kursi dan merasakan ketakutan setelah selesai.

Tidak banyak adegan mengejutkan di film ini, tetapi penonton akan dibuat menahan napas dengan suspense-suspense yang membuat kita sulit untuk tidak merinding. The Conjuring dengan suksesnya berhasil mengaplikasikan sebuah trik film horror yang paling lawas namun paling menjanjikan yaitu, menakut-nakuti penonton, bukan pemain.

Jadi kalau lo mendaulat diri sebagai pecinta film horror, pergilah ke bioskop dan nonton The Conjuring. Lo akan dengan mudah menyetujui pendapat  bahwa The Conjuring adalah film horror terbaik karya sineas Hollywood dalam satu dekade terakhir dan mungkin, beberapa tahun ke depan.

Point: 10/10.

***

[Jakarta, 21 Juli 2013]

3 thoughts on “Review Film; The Conjuring”

  1. Hello Saudara Dee😀 Saya “complete stranger” yang lagu ngubek ngubek tentang The Conjuring di dunia maya dan terdampar di website Anda yang OK ini! Saya penggemar fanatic horror dan fans berat karya-karya James Wan. Mohon pendapat saudara: Porsi keseraman The Conjuring dibanding sama Insidious menurut pendapat Saudara gimana? Terima kasih banyak ya Saudara Dee atas tulisan yang seru tentang The Conjuring dan atas waktunya untuk membaca komentar saya ini…..Looking forward to hear from you :D……Have a nice day!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s