Kayla

Kayla membakar batang kedelapan. Padahal malam belum terlalu tinggi, tapi rokok yang baru dibelinya sudah tandas separuh. Kayla menghisap batang tembakau di tangannya yang bertumpu ke atas meja. Kemudian pelan-pelan, dalam kesengajaan, Kayla membiarkan asap di dalam rongga mulutnya menemukan jalan keluar. Asap putih mengepul di depan wajahnya, Kayla memejam mata. Kayla senang mengecap asap dengan indera tersembunyi yang dia tak tahu ada di mana. Selalu ada kepuasan ketika membayangkan asap tersebut diurai satu per satu oleh oksigen di sekitar. Sesaat sebelum asap tersebut memecah berantakan, Kayla membuka mata dan mengejarnya dengan hisapan udara dari  bibir. Dia hisap dalam-dalam, lalu menghembuskannya kembali kuat-kuat.

Berbatang-batang rokok telah dihabiskan, namun tak satu pun jawaban atas kegelisahannya ia temukan. Kayla teringat ibunya yang juga sering menghabiskan berbatang-batang nikotin di teras belakang rumah di tengah-tengah pergantian malam menuju pagi. Mungkin ibunya juga tengah berbagi gelisah pada malam. Kayla pernah bertanya, apa yang ia kesahkan hingga dilarikan pada kepulan asap.

“Ibu, apa yang mengganggu tidur lelapmu?”

Ibunya pernah berkata saat Kayla terakhir kali bertanya, “Tidak seorangpun tahu, gelisah yang diam-diam hatiku bagi kepada Malam. Tidak juga diriku.”

Kayla membakar batang keduabelas malam ini sambil melirik kotak rokok yang tergeletak di atas meja, tersisa empat batang lagi di sana. Langit yang sebelumnya hitam, kini telah terdistorsi warna biru yang dingin. Kayla beranjak dari tempat duduknya menuju jendela yang dibiarkan telanjang tanpa kepura-puraan.

Kayla membuka jendela, angin berbau amis menyeruak masuk lubang hidungnya. Desis ombak terdengar sayup-sayup dari depan. Kantuk belum juga datang. Ia melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul setengah enam. Di jam tangan mahal pemberian terakhir Bapaknya, tertera angka dua puluh tujuh di kolom tanggal, angka lima di kolom bulan dan angka kosong enam di kolom tahun. Kayla menghela nafas sekali lagi, rokok di tangannya telah lama habis.

Kayla membakar rokok satu kali lagi untuk menenangkan gelisahnya. Sepertinya ia masih berat menerima bahwa hari ini akan menjadi hari penghabisan masa mengabdinya di sekolah terbuka Bantul. Tak perlu menginjakkan kaki ke ibukota, Kayla telah dapat merasakan penatnya hidup di hiruk pikuk manusia. Kayla takut ia merindu murid-muridnya, ia takut berhenti menjadi manusia dan berubah menjadi robot pengejar materi, ia takut tak lagi dapat menikmati bau amis pantai seperti pagi ini.

Kayla mengurut lembut kepalanya yang berdenyut. Masih di depan jendela, ia merasakan kedatangan hening yang terlalu cepat. Begitu kontradiktif dengan makhluk-makhluk kecil di dalam kepala Kayla yang kian gencar meracau galau, Kayla mengernyitkan dahi. Dari kejauhan terdengar suara teriakan. Dinding-dinding bergetar kuat. Sesuatu yang berat menimpa kepalanya hingga ia terhuyung-huyung jatuh ke atas lantai. sebelum malam kembali pada pagi, sepi menikam Kayla berkali-kali. Lalu ia mati pelan-pelan, didera pertanyaan.

[Jakarta, 3 Juli 2013]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s