PostcardFiction: Celebration of Hope

Sebuah ketukan pelan menghentikan gerakanku yang tergesa-gesa.

“Bu, lihat dasiku, ‘ndak?” tanyaku sambil menguak selimut yang menutupi tempat tidur.

Aku melirik sekilas ke arah Ibu, ia tersenyum tak menjawab. Aku membuka laci meja, dasi kupu-kupu yang kucari tak ada di sana. Kudengar suara pintu ditutup, sebuah tangan menyentuh bahuku perlahan, menarikku berbalik. Ibu masih tersenyum, matanya begitu teduh, membuatku lupa sedang terburu-buru. Tangan ibu menarik sesuatu dari dalam kantung  jas yang kukenakan.

“Astaga…” Aku mengutuk diri sendiri. Setengah berjinjit Ibu mengalungkan dasi yang ia baru ia temukan, di leherku.

“Kamu, sudah mau menikah kok masih kayak bocah,” tegur Ibu pelan, tetap dengan senyum di wajahnya yang telah termakan usia.

“Agung, mulai hari ini kamu sudah bertanggung jawab atas hidup seorang manusia lain, jangan sembrono. Ibu percaya, Lastri bisa menjadi istri dan ibu yang baik untuk kamu dan anak kalian nanti. Tinggal kamu, nahkoda, yang menentukan kapal kalian mau dibawa kemana.” Ibu menutup wejangan singkatnya dengan kecupan hangat di dahi dan sebuah pelukan singkat. Ia membimbing tanganku menuju pintu, menuju kehidupan baru.

Di penghujung lorong, Lastri berdiri dengan gaun pengantinnya yang berwarna peach lembut. Ia berjalan ke arahku, suara organ bergema di tiang-tiang gereja, semua mata melihat ke arahnya. Seketika kusadari, aku melupakan sesuatu. Wajahku yang mendadak panik pastilah terlihat jelas, karena sambil tetap berjalan, Lastri terlihat mengerutkan dahi. Kepalanya terangkat sekilas, seolah bertanya. Aku menggerakkan bibir tanpa suara, “Cincin!”

Lastri tersenyum, ia melirik ke arah tanganku, aku menunduk melihat arah yang ia isyaratkan. Dua cincin emas putih melingkar manis di jari kelingking tangan kiriku. Aku tertawa sekilas. Lastri menginjakkan kaki dengan mantap di atas altar. Senyum Lastri masih ada di sana. Ibu benar, Lastri akan menjadi istri dan ibu yang baik, seperti dirinya. Lalu aku akan menjadi nahkoda yang membawa kapal kami berlabuh ke pantai terindah, bukan karam di tengah lautan seperti Ayahku.

***

[Jakarta, 21 Desember 2012]

One thought on “PostcardFiction: Celebration of Hope”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s