PostCardFiction: Yang Terlupakan

Semuanya begitu jelas terlihat. Seperti dalam gerak lambat. Kilatan cahaya putih yang membutakan, menghentikan gema nyanyian puji-pujian. Kursi-kursi terlempar, patah menjadi dua. Tembok-tembok gereja terpecah, atap berhamburan runtuh menyerah pada gaya gravitasi. Tubuh-tubuh terpental, jiwa yang terlepas dari raganya melayang di udara. Patung-patung Tuhan jatuh mencium tanah, tiang-tiang penyangga luruh juga. Orang-orang berlarian, mulut-mulut menganga tanpa bunyi. Jerit dan raungan terdengar jauh, jauh sekali. Setelah suara ledakan kuat, hening yang panjang menutup misa malam kami.

Seorang perempuan tua dengan darah kental berwarna kehitaman memenuhi muka, merangkak tertatih ke arah tubuh pemuda yang terlentang tanpa nyawa. Sepotong tubuh tanpa tangan dan kaki tergeletak di tengah ruangan, pembawa bom bunuh diri yang menghancurkan segalanya. Perempuan kecil menangis tanpa suara, air matanya deras mengalir di pipi, kaki sebelah kirinya terputus hingga batas lutut. Seorang perempuan paruh baya ikut menangis sambil memeluk dari belakang, wajahnya tak kalah penuh darah.

Pintu utama terbuka, cahaya lampu jalan dan kendaraan menyeruak masuk menerangi. Orang-orang berlarian masuk. Bunyi derap langkah bersahut-sahutan, terburu-buru. Beberapa orang berlumuran darah tertatih-tatih melangkah keluar. Satu atau dua masih punya cukup tenaga pergi sambil berlari sekencang-kencangnya, mungkin takut pada bom susulan.

Semuanya begitu jelas terlihat. Seperti dalam gerak lambat. Gegap gempita perayaan natal,  misa yang khidmat, hening yang menghanyutkan, ledakan yang mematikan. Semua terekam sempurna dalam ingatanku. Aku masih berjalan menyeret kaki menuju cahaya di luar. Tak kurasakan lagi tangan kananku yang tinggal separuh, meneteskan darah ke lantai. Bunyi dengung masih menggema di kepalaku, menggantikan nyanyian paduan suara yang sebelumnya bergaung merdu. Dengung itu menutup segalanya, menghadirkan setiap adegan, setiap gerakan, tanpa suara.

Setelah perasaan panik entah apa yang sebelumnya menggantungi pundakku, sekarang ia menjadi begitu ringan. Memberi otak kesempatan untuk melemparkan ingatan-ingatan tentang hal-hal acak yang tersimpan dalam alam bawah sadar. Hening ini tiba-tiba saja mengingatkanku pada sebuah kutipan film. Ah, apa judulnya?

Aku masih berusaha mengingat-ingat. Sebelum berhasil kepalaku menjawab pertanyaan tersebut, aku terjatuh habis tenaga. Dengan sedikit kesadaran yang tersisa di tubuhku, masih sempat kurasakan beberapa tangan menangkapnya.

***

[Jakarta, 5 Desember 2012]

People always talk about the quiet before the storm, but no one talks about the quiet after. At least after the storm, you know it’s really over. – The Quiet, 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s