Dear, Kamu…

Aku masih ingat, kurang lebih lima bulan yang lalu. Kamu masih seorang asing. Orang asing yang dilempar Tuhan begitu saja ke hidupku. Mengobrak-abrik segalanya, membuat aku melakukan yang tidak pernah kulakukan sebelumnya, melanggar komitmen.

Sebenarnya, kamu tidak benar-benar bisa dibilang asing. Saat bulan Mei kemarin kita akhirnya berjumpa lagi, sudah hampir tujuh bulan sejak pertama kali kita berkenalan. Aku tahu namamu, kamu pun tahu aku. Aku hafal wajahmu, kamu pun tidak pernah sungkan menegurku jika kebetulan bertemu. Tapi kita bukan teman, kita hanya kenalan.

Maka aneh rasanya, saat semua terjadi begitu cepat. Kita terjebak dalam sebuah situasi yang, berani taruhan, tak seorangpun dari kita pernah rencanakan. Ketika kita memutuskan untuk memberi satu sama lain kesempatan, kita belum menyadari bahwa ternyata kita belum siap untuk memberi kita kesempatan.

Ingat tidak, sebulan pertama yang kita lewati penuh keraguan? Aku yang ragu bahwa ini bukan sekadar euforia. Kamu yang ragu pada dirimu sendiri. Tubuh kita yang belum mengadaptasi satu sama lain. Perasaan kita yang masih saling meraba celah. Otakmu yang berputar, bertanya-tanya, apa yang ada di kepalaku. Atau pikiranku yang sibuk menerka-nerka, siapa yang ada di benakmu.

Tapi aku percaya pertanda. Aku gemar membaca isyarat. Jika sebelumnya seorang model cantik jelita pun tak bisa menggoyahkan komitmenku, kenapa seorang kamu dan sebuah kecupan singkat mampu? Pasti ada alasan di balik itu semua.

Satu bulan, dua bulan, tiga bulan, empat bulan, lima bulan. Kamu bukan perempuan paling cantik yang pernah aku kenal, bukan pula perempuan paling pintar yang pernah berhubungan denganku. Kamu cranky, cerewet, manja, keras kepala, kadang bisa terlewat kekanak-kanakan. Tapi kamu membuat aku menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Membuat hidupku menjadi lebih baik dari yang siapa pun bisa lakukan. Aku rasa, cinta memang harus begitu. Tidak merubah, hanya mendewasakan.

Kamu ingat, kata-kata di film pendek yang pernah kita tonton bersama? Katanya, otak kita telah terlatih untuk menyimpan memori secara refleks. Seperti sentuhan tangan, temperatur suhu tubuh, bahkan bulu mata yang menggelitik saat sepasang manusia mendekatkan wajah satu sama lain begitu erat.

Kita sepakat bahwa berganti pasangan adalah seperti berpindah ke negara asing, itu bisa sangat menakutkan. Ada masanya kita sering bertanya, “How’s your new country?”. Entah sejak kapan, pertanyaan tersebut tak lagi pernah disebutkan. Kita tahu, negara asing itu telah menjadi rumah baru kita.

Kamu yang sudah tahu bagaimana caranya menemukan posisi nyaman untuk menyandarkan kepala di pundak-ku saat kita di atas sepeda motor. Kamu yang sudah hafal persis lekuk tulang dadaku untuk terlelap di malam hari. Aku yang seringkali tanpa sadar memainkan tanganmu sambil berkendara. Aku yang bahkan ketika lelap, selalu mencari hangat tubuhmu untuk mendaratkan pelukan.

Dan aku bersyukur, saat itu memutuskan untuk tetap bersamamu dan melepaskan bebanku. Aku bersyukur, malam itu kamu dengan agresifnya menciumku (hahaha). Kamu tahu, hidup tidak pernah terasa lebih mudah sebelum kamu ada. Kekhawatiranku tentang penerimaan, semudah itu terlewatkan. Entah mukjizat dari mana, setelah penantian bertahun, ibuku akhirnya menerima kenyataan bahwa aku, adalah, penyuka sesama. Setelah sekian tahun kepalaku dipenuhi ratusan rencana, kamu adalah orang yang pertama bisa meyakinkanku melakukan langkah-langkah kecil untuk membuat semua itu menjadi realita.

Seorang bijak pernah berkata padaku:

Dulu, saat Adam dan Hawa melakukan kesalahan, mereka dihukum dengan diturunkan ke dunia. Sejatinya dunia ini adalah penjara. Hanya, karena ukurannya yang terlalu luas, kita seringkali lupa.

Kukira, itu sebabnya orang-orang baik banyak yang lebih dulu mati. Dalam otakku yang kecil ini, kuanggap bahwa masa hukuman mereka telah selesai. Maka jika benar kita adalah kaum terhukum dan berbuat salah ataupun dosa adalah sesuatu yang bersifat kodrati, aku sudah memutuskan. Aku akan melewati masa hukuman di penjara ini, sebaik-baiknya, bersama kamu.

With love,

Dee.

[Jakarta, 8 Nopember 2012]

One thought on “Dear, Kamu…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s