Proses

Tiga minggu yang lalu, seorang teman, sebut saja Bunga (bukan nama sebenarnya, -red), dinyatakan positif mengidap Hepatitis A. Gue ingat, hari Jumat itu Bunga absen kelas pagi. Gue coba menghubungi Bunga, dan ternyata dia berencana periksa ke rumah sakit terdekat. Gue sudah tahu Bunga sedang sakit, tapi awalnya gue kira itu bukan sesuatu yang serius, karena Bunga memang sering dijangkiti penyakit, termasuk penyakit kejiwaan. Singkat cerita, Bunga bilang sama gue dia akan pergi ke rumah sakit, sendirian. Meskipun rumah sakit itu cuma berjarak 200 meter dari kosannya, gue sedikit memaksa Bunga bersabar sampai gue keluar kelas untuk menemaninya ke rumah sakit. Bunga bilang, dia harus ke rumah sakit sebelum orang-orang istirahat makan siang dan sholat Jumat, suhu tubuhnya demam tinggi, dan Bunga terlalu lemas kalau harus menunggu lagi. Gue coba hubungi beberapa teman dekat lainnya untuk menemani Bunga, tapi dia bersikeras enggan merepotkan orang lain. Ya, selain penyakitan, Bunga memang keras kepala dan sok tegar kayak tokoh di film-film drama.

Kejadiannya begitu cepat, Bunga selesai periksa, HB darahnya turun. Dugaan pertama adalah demam berdarah. Sore itu juga, Bunga dijemput saudaranya untuk beristirahat di Depok, khawatir tidak ada yang mengurus Bunga jika dia menetap di kosan dalam keadaan sakit. Gue dan beberapa teman lain yang semula berniat menjenguk sebelum Bunga pergi ke Depok akhirnya batal datang ke kosan. Seminggu setelahnya, gue coba kembali menghubungi Bunga, berharap Bunga sudah sembuh dan siap kembali ke kampus, tapi berita yang gue dapat ternyata mengabarkan bahwa Bunga didiagnosa mengidap Hepatitis A dan harus pulang kampung ke Pekanbaru. Di sana ada keluarganya yang bisa menemani Bunga setiap hari di rumah sakit. Gue senang, di sana ada keluarnya yang bisa merawat Bunga. Tapi pada saat yang bersamaan gue juga merasa sedih, karena Bunga adalah salah seorang dari tim produksi kami yang solid, dan banyak sekali tugas menanti yang pasti akan merepotkan tanpa bantuan Bunga. Tiga minggu setelahnya, Bunga masih dirawat di sebuah rumah sakit di Pekanbaru, sampai sekarang.

Beberapa hari setelah kejadian itu, pikiran gue tiba-tiba terlempar kembali ke tahun 2007. Di mana gue harus merasakan menjadi anak kos untuk pertama kalinya. Waktu itu gue cuma seorang anak kampung yang baru lulus SMA dan beruntung diterima di salah satu PTN ternama di Jogja. Gue berangkat gaya arogan khas anak baru gede, dengan ke-sotoy-an gue tentang hidup. Dibandingkan rasa takut karena pertama kalinya harus berdiri dengan kaki sendiri di kota orang, gue lebih merasa bahagia, karena pertama kalinya, gue merasa bebas. Gue memang tidak selalu tinggal bareng orangtua gue dari kecil, karena mereka sering berpindah-pindah kota terkait pekerjaannya. Tapi setidaknya selama ini gue selalu ditemani kakak-kakak lelaki gue yang protektifnya melebihi ibu-ibu berpikiran ortodoks.

Dua tahun gue menikmati pahit dan pahit dan pahit dan manisnya hidup sendiri. Mulai dari belajar mengatur keuangan agar tidak kelaparan di akhir bulan, belajar tentang prioritas, belajar tentang memilih, termasuk memilih teman dan memilih apa yang sebenarnya gue mau jalani. Gue ingat salah satu dari empat kakak laki-laki gue pernah mewanti-wanti gue di malam sebelum gue berangkat ke Jogja. Dia bilang,

“Tahu apa yang paling sulit dicari di luar sana? Teman. Pintar-pintar mencari teman, dek.”

Malam itu gue sama sekali tidak menganggap serius wejangan bijaksana tersebut. Gue pikir, selama masa sekolah gue tidak pernah punya masalah dalam mendapatkan teman. Bahkan, banyak yang berharap bisa jadi temen gue. Sombong, iya, tapi lebih tepatnya, bodoh. I thought I started good back then at high-school, and I just have to keep up with that on college, I was wrong. Highschool isn’t the beginning of life, in fact, it’s just an introduction.

Kalau di SMA lo temuin back-stabber. Di dunia nyata, lo akan temuin orang-orang yang gemar menusuk dari belakang dengan senjata yang berbeda-beda. Ada yang menggunakan pisau, ada yang pakai silet, ada juga yang tidak tanggung-tanggung, menikam dengan samurai sampai tembus ke jantung lo. Di SMA lo masih bisa merasakan kemewahan berjalan diiringi teman-teman satu gang, teman-teman satu sekolah yang siap pasang badan tawuran kalau lo bermasalah dengan sekolah lain. Di dunia nyata, itu semua cuma jadi kenang-kenangan indah. Waktu SMA, ketika lo lapar, akan ada cukup banyak teman-teman yang berbaik hati bayarin lo makan siang, atau ibu kantin yang dengan dermawannya membiarkan lo ngutang. Di dunia selain SMA, saat lo lapar, adalah saat lo menyesali kenapa uang kiriman dari orang tua bisa habis sebelum akhir bulan? Di dunia ini, saat lo lapar, artinya lo harus puasa sampai uang kiriman berikutnya datang, karena lo tahu, adalah sia-sia mencoba pinjam duit ke teman-teman lain yang juga perantauan. Dulu, ketika lo sakit, hampir bisa dipastikan setidaknya beberapa teman sekelas akan datang menjenguk lo sebagai perwakilan teman-teman yang lain dan biasanya kedatangan itu disertai buah tangan makanan hasil uang yang dikumpulkan dari satu kelas. Tapi di dunia setelah seragam putih abu-abu penuh coretan memorial tergantung rapi di dalam lemari, saat lo sakit adalah saat lo bisa melihat mana yang sebenar-benarnya teman, dan mana yang bukan. Saat lo sakit adalah saat di mana lo harus bergantung pada diri sendiri, karena orang lain terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing.

Menakutkan, iya. Tapi hal-hal ini yang akhirnya membentuk lo menjadi manusia. Oppie Andaresta pernah berkata,

“Belajar lagi jadi manusia.”

Pada akhirnya, hal itu adalah satu-satunya pelajaran yang perlu lo jalani semasa lo hidup. Lo akan mengerti hal-hal fana yang membuat orang bisa jadi gila, dan hal-hal hakiki yang bisa membuat lo bahagia lahir batin. Sekarang, lima tahun sejak gue resmi keluar dari rumah dan merantau, gue dengan bangga bisa berkata bahwa gue adalah manusia yang jauh lebih baik dari anak kampung yang baru lulus SMA dan beruntung diterima di salah satu PTN ternama di Jogja itu. Banyak teman-teman gue yang tetap tinggal di rumah orangtuanya, lulus kuliah tepat waktu, dapat kerja yang cukup menjanjikan, sementara gue harus pindah kuliah dan mengulang dari awal lagi. Apa itu membuat mereka menjadi lebih baik dari gue? Gue rasa nggak. Kenapa? Karena hanya dengan pernah merasakan jatuh terpuruk di bawah, lo bisa menghargai rasanya berdiri di puncak tangga tertinggi.

It takes guts to get out of your comfort zone, Man. And I did it. It takes courage to let yourself feel sick, starving, confuse, or even afraid. It takes a big heart to stay stand still after losing friends, losing yourself or probably, losing faith. It takes a responsibility accepting the risk to jump off of your fine-cozy sofa and join the fights. It takes a lot more than that, to live the life.

Di lagunya yang berjudul Trust, The Fray pernah menyentil gue dengan liriknya,

“We’re only taking turns, holding this world. It’s how it’s always been. When you’re older, you will understand.”

Jadi kalau ini adalah tahun pertama atau tahun kedua lo merantau ke kota orang dan banyak hal yang berjalan tidak sesuai dengan harapan, jangan terburu-buru mengutuk Tuhan atau keadaan. Suatu hari lo akan sampai di posisi gue, di posisi jutaan orang lain seperti gue, yang telah melalui proses itu. Pada saatnya nanti, mungkin kalian pun akan menulis seperti ini, bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk diri lo sendiri. Seperti gue, yang menulis agar gue tidak lupa, bahwa setiap orang pernah merasa lemah. Agar gue selalu ingat, bahwa gue, manusia.

*Dear, Bunga, cepat sembuh! :*

[Jakarta, 15 Oktober 2012]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s