Rahasia Hujan

Di dalam kepalanya ada hujan, orang-orang berbicara dengan suara riuh rendah, tangisan anak kecil yang belajar kecewa lebih awal dari seharusnya, ibunya yang mengucap pamit ratusan kali, dering telepon, gelak tawa anak muda, desah nafas berpacu birahi, deru mobil, teriakan marah, bunyi pecahan botol di atas kepala, dentuman musik, bola billyard terpukul tongkat beradu satu sama lain, di dalam kepalanya ada dunia.

Dia bangkit dari tempat tidurnya, duduk di tepian yang rendah dengan kaki menekuk menyangga kedua siku. Tangannya meremas rambut, sebelah kanan kadang memukul kepalanya dengan keras.

Di dalam kepalanya ada hujan, derap langkah orang berlari, tangis bercampur jeritan adik perempuannya, bunyi halus jarum suntik menembus kulit tangan yang mulus, bungkus plastik dirobek paksa, gelas diadu saling bersulang, omelan ibunya setelah dering tak berkesudahan, angin menggesek wajahnya saat dikeluarkan melalui jendela dari mobil yang tengah melaju, tepuk tangan menggema, di dalam kepalanya penuh cerita.

Dia melemaskan otot leher dengan gerakan memutar, sambil kedua tangan memijat tengkuknya, tak banyak membawa pengaruh. Ditelannya cepat dua butir obat pembunuh rasa sakit dengan bantuan segelas air dingin.

Di dalam kepalanya ada hujan, orang-orang saling menampar, pertemuan kulit dengan hentakan tangan, keyboard ditekan tak beraturan, biola digesek pelan, tuts piano ditekan sembarangan, nyanyian, minyak yang memanas bertemu kentang mentah, kemeja yang dipepatkan dalam tas, rambut diacak oleh tangan, matahari pagi dan hingar bingar aktivitas, peluru yang menembus dada, tetesan darah menghasilkan bunyi satuan, di dalam kepalanya terkisah kehidupan.

Dia mengambil mp3 player di atas meja sebelah tempat tidur, memasang earphone dan memutar sebuah lagu bertempo cepat namun melodis. Dikeraskannya volume hingga maksimal dan memenuhi kedua gendang telinganya, menutupi ratusan, ribuan, bahkan jutaan suara yang membuat kepalanya terasa hampir pecah.

Ada suara gemuruh selain yang terdengar langsung di telinganya, lelaki itu bangkit dan bergerak ke arah jendela yang sejak tadi tertutupi tirai tebal menghalangi cahaya. Di luar hujan, deras, dan lepas.

Ditutupnya tirai itu dan kembali ke atas tempat tidur, dibaringkannya tubuh, masih dengan musik kencang terpasang. Kepalanya pun masih sakit hingga membuatnya ingin memuntahkan seluruh isi perut.

Di dalam kepalanya ada hujan, orang-orang berbisik dengan suara samar, erangan ayahnya yang mati oleh timah panas, pidato terakhir presiden diktator, tudingan dan makian anak koruptor, bentakan dua lelaki berpakaian loreng hitam, teriakan mengancam, ketukan keras dan kasar di pintu depan rumah, ibunya yang tertawa sambil menangkupkan kedua tangan di dada, duda yang tertawa di samping ibunya, bunyi sepatu adiknya bergesek lantai diseret ke mobil dengan paksa, ayahnya terkapar berdarah, desah nafasnya di balik lemari kayu jati, degup jantung ketakutan, di dalam kepalanya ada sejarah tak tertuliskan.

Di dalam kepalanya saja. Sebelum dia menutup mata, suara ayahnya di telepon yang terdistorsi bunyi butiran air hujan beradu dengan tanah, kembali menggema, cerita rahasia yang harus dibawa mati bersamanya. Cukup di dalam kepalanya saja.

Lelaki itu menelungkupkan tubuh dan menenggelamkan muka ke dalam bantal tipisnya. Meremas rambut dengan kedua tangan, sambil sesekali yang kanan memukul tengkorak kepala dengan keras. Delapan butir obat penahan sakit telah dia habiskan.  Dia tahu sakitnya akan segera hilang, dan datang lagi nanti, saat kembali turun hujan.

[Jakarta, 12 Maret 2011]

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s