Gun

“Bu, kayaknya kemarin aku lihat Bapak.” Gunawan mengadu ke Ibunya. Si Ibu yang sedang memotong kacang panjang untuk sayur makan nanti siang terdiam menghentikan kegiatannya.

Mbok kamu itu jangan berkhayal. Lah wong Bapakmu itu udah mati kok.” Kata Ibu kembali meneruskan kegiatan memasaknya.

Ndak Bu, aku bener-bener lihat kok. Itu Bapak, kemarin waktu aku nyemir sepatu di stasiun, Bapak turun dari kereta. Aku panggil, Bapak menoleh kok. Tapi buru-buru pergi. Aku lagi nyemir sepatu orang, kalo ndak, wes tak kejar.” Gunawan tetap bersikeras.

“Halah, mbok wes ta lah ndak usah ngayal. Sana mandi, mangkal. Lebih pagi lebih banyak rejeki nanti.” Ibu menyudahi percakapan pagi itu.

——

Gunawan sudah pergi. Si Ibu sekarang sendiri di dalam susunan kayu seadanya yang mereka sebut rumah itu. Dia tidak bisa berhenti memikirkan kata-kata anaknya. Tentang si suami yang sudah mati. Tentang si suami yang katanya, sudah mati. Tapi mayatnya dia pun tak pernah lihat. Makamnya dimana pun dia tak tahu. Yang sampai di telinganya hanya kabar bahwa suaminya yang dulu tentara kelas rendahan itu mati ketika bertugas di Timur Timor, sudah lama lewat tentunya.

Dia mulai meragukan kebenaran yang dipercayanya bertahun-tahun ini. Kalau benar Gunawan melihat Bapaknya. Ah, dia bahkan tak sanggup berandai-andai. Hatinya pasti akan terlalu kecewa mengingat lelaki yang dulu menjadi satu-satunya harapan untuk menyambung hidup, bisa tega meninggalkan keluarga. Dia, dan seorang anak laki-laki yang masih berumur 6 tahun waktu itu. Perempuan itu tiba-tiba saja tidak mampu bernafas, dadanya mendadak sesak.

——

Mata Gunawan liar mencari-cari. Siapa tahu si Bapak yang dia kenali kemarin muncul lagi. Tapi menjelang petang harapan Gunawan mulai sia-sia. Beberapa lembar uang ribuan dihitungnya, terlalu sedikit, dia harus menyemir sampai malam. Gunawan memutuskan pindah ke terminal di sebelah stasiun itu. Biasanya di sana lebih banyak lembaran yang dia dapat.

——

Di pintu masuk terminal, lelaki tua dan Gunawan berhadapan. Mata Gunawan membelalak seketika.

“Bapak!” Teriaknya sekuat tenaga. Lelaki itu refleks berlari ke arah yang berlawananan. Gunawan mengejarnya. Membawa sekotak semir yang bunyi karena saling beradu ketika dia lari.

“Bapak! Tunggu Pak! Ini Gunawan Pak!” Teriaknya sambil mengejar. Si lelaki yang dia panggil Bapak tadi tidak mengindahkannya sama sekali. Gunawan tertinggal cukup jauh. Bahkan dia yang muda dan segar bugar itu tidak mampu menandingi kecepatan berlari si lelaki tua. Cepat sekali larinya. Langkahnya mantap. Gunawan hanya bisa tertunduk kelelahan sambil memandang lelaki itu akhirnya menghilang di balik tembok parkiran menuju ke jalan keluar.

——

Gunawan bercerita lagi pada Ibunya. Si Ibu sekarang mau tidak mau harus percaya. Tapi mereka tidak memiliki petunjuk apa pun. Tidak tahu harus mencari kemana. Akhirnya mereka hanya bisa pasrah dengan ketahuan yang ternyata menyiksa.

——

Setahun kemudian.

Pintu rumah diketuk pelan. Gunawan yang sedang sakit dan tidak bekerja siang itu membukakan. Dua polisi berseragam lengkap menunggu di depan pintu.

“Selamat siang dik. Benar ini rumahnya Pak Guntoro Subagjo?” Tanya salah seorang dari mereka. Gunawan menjawab dan menjelaskan Bapaknya sudah lama meninggal. Kedua polisi itu saling menukar pandangan. Yang satu lagi mengeluarkan selembar foto dari saku celananya.

“Ini, Pak Guntoro, benar?” Gunawan melihat foto yang ditunjukkan. Benar, itu Bapaknya. Si polisi yang jangkung pertama menarik nafas agak panjang, kemudian menjelaskan.

Suara sesuatu membentur lantai semen terdengar keras. Gunawan terkesiap melihat ke dalam rumah. Ibu yang menguping di balik pintu kamar jatuh lemas ke lantai. Gunawan pun merasa limbung, tiba-tiba saja dia ingin muntah. Di dalam kepalanya berputar kata-kata.

“Begini dik, menurut bukti-bukti yang ditemukan, Pak Guntoro adalah orang bayaran pelaku pembunuhan Direktur ternama yang sedang diselidiki saat ini. Dipastikan dia adalah mantan anggota petrus pada jaman Orde Baru. Dan sekarang tim kepolisian sedang mencarinya.”

Gunawan semakin limbung. Suara-suara memanggil namanya terdengar semakin samar. Pemuda tanggung itu pingsan menyusul Ibunya.

[Medan, 27 Juni 2010]

*Pada masa Orde Baru, orang-orang yang terpilih menjadi pasukan Petrus (Penembak Misterius) untuk menjamin kerahasiaan identitasnya, oleh Presiden Soeharto diperintahkan meninggalkan keluarganya masing-masing. Dan kabar tentang kematian mereka ikut disebarkan. Tunjangan jaminan hidup diberikan pada keluarga yang ditinggalkan. Namun sejak 1998 Orde Baru runtuh hingga sekarang, anak-anak yang telah kehilangan bapaknya, istri-istri yang kehilangan suaminya itu, banyak yang terlantar dan kelaparan.

**Kemudian secara ajaib, beberapa tahun kemudian, di beberapa kota terjadi kemunculan orang-orang yang sebelumnya dikabarkan mati tadi. Beberapa di antaranya tertangkap sebagai pembunuh bayaran, pelaku beberapa pembunuhan di dalam dan luar negeri.

***Informasi dapat dilihat dari koran-koran dan majalah dalam rentang waktu sesudah tahun 1998 hingga sekarang.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s