Mata

Perempuan itu bernama Siti. Dua puluh tiga tahun umurnya, belum menikah. Ia menjadi terkenal di kotanya karena mata yang ia miliki. Mata yang tak pernah mengeluarkan air mata setelah sekian tahun lamanya. Dua bola mata itu tampak seolah keluar dari letaknya. Kering. Pada bagian putihnya, urat-urat mata terlihat cukup jelas tanpa harus berada begitu dekat. Warna hitam pupilnya telah berubah warna menjadi abu-abu. Jika kau selalu bisa berkaca di mata lawan bicaramu, pada Siti tak akan kau alami itu. Matanya seperti tidak memantulkan cahaya. Tapi dia tak lantas buta. Matanya masih bisa melihat meski tak sempurna.

Ibunya, Rahma, telah mengajak Siti ke banyak dokter mata. Bahkan ada yang dengan sukarela datang ke rumahnya karena penasaran dengan kasus langka tersebut. Dokter-dokter spesialis mata terkenal di kotanya tak habis pikir bagaimana mungkin mata yang tak lagi berproses lakrimasi dan berhenti menghasilkan air mata, tak juga buta setelah sekian lama. Tapi tak ada satu pun di antara dokter-dokter ternama itu yang mampu mengobati mata Siti. Obat tetes hingga pil yang diminum secara teratur tak juga membuat mata Siti menjadi basah.

Rahma sudah menyerah. Pernah suatu kali ia memaksa Siti untuk menangis. Rahma sudah membentaknya, memakinya, bahkan mengutuknya, tapi Siti diam tak bergeming. Siti hanya berkata, air matanya telah habis sejak kepergian sang ayah. Rahma tak kuasa menahan sedih. Malam itu adalah percobaannya yang pertama dan terakhir, dia habiskan dengan menangisi nasib, sementara sang anak kembali berdiam diri di dalam kamar.

Ayah Siti adalah seorang wartawan senior negeri ini, Royo Sutarman. Siapa tak pernah mendengar namanya, dinyatakan hilang di sebuah daerah konflik saat melakukan peliputan awal tahun 1990, dan ditemukan mati menjelang bulan September di tahun yang sama. Saat jenazah dipulangkan kepada keluarga, wajahnya yang hancur karena siksaan sepatu boot prajurit itu tak dapat dikenali. Tapi perwakilan TNI yang mengantar berani bersumpah itu adalah Royo Sutarman, kepala keluarga mereka. Meski setelah selesai acara penguburan, karena melihat Siti yang bersikeras mayat itu bukanlah ayahnya, perwakilan TNI tersebut berbisik ke telinga Rahma untuk berlapang dada dan meyakini saja itu benar suaminya.

“Tak ada gunanya ibu bersikeras. Ibu ini orang sipil, saya pun hanya prajurit rendahan. Kita tidak tahu apa yang terjadi di sana. Kalau ada rasa tak rela, sebaiknya dimaafkan saja. Mungkin keadaan malam itu gelap, tentara kita sulit mengenali mana lawan, mana wartawan.”

Rahma tak banyak bicara. Untuknya, benar atau tidak itu mayat sang suami, sebuah nisan dan gundukan atas nama lelakinya untuk ditangisi dan diziarahi tiap tahun sudah mencukupi. Tapi tidak dengan putri semata wayang mereka. Siti yang baru berusia lima belas tahun saat itu, bahkan tidak mengeluarkan setetes air mata pun. Baginya tak layak orang asing ditangisi. Kalau ayahnya tak juga ditemukan, Siti bersumpah tidak akan pernah menangisi apa pun lagi.

Delapan tahun sejak kejadian itu, Siti menyelesaikan pendidikannya hingga menjadi sarjana tanpa masalah yang berarti. Dulu, saat matanya belum separah saat ini, Siti masih sering bermain bersama teman-temannya. Menjalin hubungan dengan beberapa pria, dan menjadi patah hati karenanya. Tapi Siti tetap tidak mengeluarkan air mata. Seorang pria pernah bertanya kepadanya,

“Aku telah mengujimu dengan berkhianat dan meniduri perempuan lain. Kau tak marah maupun menangis sedih. Kurasa kau tak pernah benar-benar menyayangiku, bukan?”

“Sebelum ayahku berangkat ke tempat dia mengantar nyawa, aku telah melarangnya. Kubilang, dia tak akan bisa kembali lagi. Ayah tetap pergi, katanya tugas itu mirip sesuatu yang suci, menyampaikan berita dan kejujuran. Tapi apa? Ayahku mati dikhianati bangsanya sendiri. Orang-orang dari negara yang selalu diagungkannya. Menurutmu, mungkinkah negara ini juga sedang menguji rasa sayang ayahku?” jawab Siti.

Itu adalah terakhir kalinya Siti menjalin hubungan istimewa dengan lelaki. Tiga tahun sejak itu, Siti lebih banyak mengurung diri di dalam kamar, dan entah sejak kapan, bola matanya mengisut karena kering. Matanya terlihat mendesak ingin keluar, tampak lebih besar dari yang seharusnya. Sejak itu pula nama Siti menjadi terkenal di kotanya.

Suatu hari rumah mereka kedatangan seorang wartawan koran nasional. Wartawan itu masih cukup muda, dua puluh sembilan tahun usianya. Seorang lelaki, tak terlalu tampan tapi menarik, Iwan, namanya. Iwan mengaku mendengar cerita tentang Siti dari seorang kawan dokter yang telah mencoba menangani Siti namun gagal seperti dokter-dokter sebelum dan sesudahnya.

“Saya akan menuliskan segala keluh kesah kamu tentang ketidakadilan di negeri ini, Siti. Kita bisa bawa perkara ini ke permukaan. Biar semua orang tahu, masih ada bangkai yang tertimbun di dalam tanah, dan kita yang akan membongkarnya,” Iwan membuka pembicaraan dengan Siti.

Siti menarik sudut bibir sebelah kanannya, tersenyum tipis, menjadikannya terlihat sinis. “Saya tidak sedang mengemis belas kasihan dari siapa pun.”

“Saya tidak bilang yang kita lakukan adalah memohon belas kasihan. Kita hanya akan menyebarluaskan kebusukan pemerintah kita dan memberitahu orang-orang kebenarannya,” Iwan mengukuhkan argumennya.

“Untuk apa? Untuk lalu mereka tiba-tiba menjadi peduli akan nasib saya dan ibu saya? Untuk mengharapkan orang lain berteriak-teriak meminta keadilan atas nama ayah saya, keluarga saya? Apa yang kalian perjuangkan? Apa, yang anda perjuangkan, saudara Iwan?” Siti berbicara dengan nada sama datar dengan tatapan matanya.

“Tidak ada yang bisa anda lakukan, yang akan membuat ayah saya bangkit dari kuburnya di suatu tempat entah di mana. Tidak ada yang bisa anda lakukan, yang akan membuat lelaki di dalam kuburan dengan nisan nama ayah saya di sana, kembali hidup dan pulang ke rumah keluarganya. Tidak ada. Keadilan sudah mati, dan saya sudah lebih dulu menangisinya di dalam hati.”

Siti bangkit berdiri dari sofa ruang tamu tempat dia berbicara dengan Iwan. Ibunya yang mencuri dengar dari dalam kamar menghela nafas berat dan berdeham pelan memberi isyarat.

“Keluarga ini tidak akan memberikan anda cerita tragedi untuk dijual. Silakan pergi, dan pastikan anda tidak pernah kembali. Permisi.” Siti menghilang ke balik tirai pembatas ruang tamu dan ruang keluarga. Iwan mengeraskan rahangnya, bertekad tetap menuliskan cerita itu dalam lembar halaman koran.

Sejak cerita tentangnya ditulis oleh Iwan, semakin banyak wartawan yang datang hendak mewawancarai Siti. Bahkan beberapa pesuruh elit politik pun ikut membujuknya menceritakan pengalamannya, mengiming-imingi bantuan untuk menegakkan keadilan, berusaha begitu keras menjadi pahlawan.

Siti tak lagi mau keluar menghadapi orang-orang itu. Hanya ibunya, Rahma yang mau beramah tamah, tapi tak juga membuka mulut dan lantang bercerita. Rahma selalu berkata, hanya ingin melupakan tragedi kepergian suaminya, dan berharap anaknya kembali ceria seperti sedia kala.

“Itulah tujuan kami ingin mengangkat berita ini, Bu. *Untuk melawan lupa!” Seorang wartawan wanita, yang juga aktivis kemanusiaan, Indira, berseru berapi-api ketika mendengar keinginan Rahma.

“Orang-orang yang peduli tentang ketidakadilan telah berjuang dengan caranya masing-masing. Kami, yang menuliskan cerita tentangnya. Mereka, yang mengisahkannya ke dalam lagu. Kawan-kawan, yang mengabadikannya dalam gambar dan film. Serta banyak lainnya dengan berbagai cara,” lanjut Indira.

Siti yang mendengar suara perempuan itu, tiba-tiba saja muncul dari balik pintu kamarnya. Indira terkesiap ketika melihat sendiri dengan matanya, perempuan dengan bola mata yang seolah mendelik hampir keluar dari kelopaknya.

“Yang kalian lakukan hanya menjual kisah sedih dan tragedi kemanusiaan untuk kepentingan komersil,” Siti menyambung pembicaraan.

“Bukan, Mbak. Perkenalkan, saya Indira. Saya memang wartawan, tapi saya juga seorang aktivis kemanusiaan. Saya dan kawan-kawan hanya mencoba membantu orang yang ingin mendapatkan keadilan,” Indira memperkenalkan diri.

“Anda pahlawankah? Anda membantu perjuangkan keadilan, atau anda mencari alasan untuk donor memberikan uangnya pada LSM anda yang entah apa itu?” Siti dengan sinis menanggapi.

Indira masih hendak membalas, tapi Siti dengan cepat melanjutkan kalimatnya.

“Maaf. Tapi yang kalian lakukan ini hanya akan menyusahkan kami. Iwan, wartawan tengik yang dengan lancangnya menuliskan kisah kami tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu, manfaat apa yang dibawanya bagi kami? Hanya membuat saya dan ibu saya diganggu oleh kedatangan orang-orang seperti anda hampir setiap minggu. Apa manfaat yang bisa kalian berikan, jika sebuah berita tentang ketidakadilan saja, telah membawa teror telepon berdering mengantarkan peringatan untuk bungkam, setiap malam. Apa yang bisa kalian lakukan jika teror itu berkembang menjadi todongan pistol di kepala saya suatu hari nanti?”

Indira terdiam dan kehabisan kata-kata. Rahma bangkit dan menghilang ke arah belakang rumah, meninggalkan anaknya dengan perempuan aktivis yang mendadak menjadi gagu.

“Jadi, anda memilih bungkam karena takut dengan teror tersebut?” Indira bertanya pelan.

“Saya diam bukan berarti takut, hanya menikmati peran. Saya percaya keadilan telah mati, dan membutuhkan tumbal untuk bisa hidup lagi. Anda tahu, ada harga yang harus dibayar, untuk setiap kebangkitan kebaikan.” Siti bangkit ke arah pintu, mempersilakan Indira pergi secara halus.

“Keadilan adalah kebaikan untuk setiap umat. Anda tidak harus membayar semuanya sendiri.” Indira membenahi tasnya dan berjalan keluar.

Di depan pintu, didengarnya perempuan tanpa air mata itu bicara terakhir kali, “Kembalilah ke sini dalam beberapa hari, cari, dan hidupkan dia.” Siti tersenyum penuh arti, Indira mengerutkan kening mencoba mengerti.

Perempuan itu bernama Siti. Dua puluh tiga tahun umurnya, belum menikah. Ia menjadi terkenal di nusantara karena cerita tentang matanya ditulis di koran nasional oleh seorang wartawan muda ternama. Mata yang tak pernah mengeluarkan air mata setelah sekian tahun lamanya, akibat kekecewaan mendalam terhadap ketidakadilan. Dua bola mata itu tampak seolah keluar dari letaknya. Kering. Pada bagian putihnya, urat-urat mata terlihat cukup jelas tanpa harus berada begitu dekat. Warna hitam pupilnya telah berubah warna menjadi abu-abu. Jika kau selalu bisa berkaca di mata lawan bicaramu, pada Siti tak akan kau alami itu. Matanya seperti tidak memantulkan cahaya. Tapi dia tak lantas buta. Matanya masih bisa melihat meski tak sempurna.

Matanya masih bisa melihat orang yang tengah malam menyelinap masuk ke rumah, beberapa hari setelah pertemuannya dengan Indira. Masih terlihat meski samar, pria-pria bertubuh besar dengan seragam loreng hitam menarik pelatuk dengan moncong pistol terarah ke kepala ibunya. Tangannya pun masih sempat menuliskan pesan di secarik kertas, dan melemparkannya melalui jendela kamar. Siti tersenyum ketika pria-pria itu mendapatinya duduk menunggu mereka di kursi meja belajar pemberian orang tuanya. Berharap dua baris kalimat berhasil ditemukan oleh para calon pahlawan.

Keadilan harus mati agar manusia bisa hidup lebih lama lagi. Akan ditebus harga yang patut mereka bayar pada bulan kelima tahun ini.

[Jogjakarta, Juni 2011]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s