Simetri

Semua terjadi dalam gerak lambat, gerak lambat yang membuat matanya mampu menangkap setiap detil adegan apapun. Debu yang beterbangan, aspal yang mendesis karena gesekan ban, kendaraan-kendaraan yang masih lalu lalang, hingga para pejuang kehidupan di jalan. Sebuah dekapan yang tiba-tiba mengencang di pinggangnya membuat ia tersadar. Perempuan di belakangnya masih bersandar pasrah pada pundak kecil itu. Ia kembali merasa asing.

Bukan, bukan dengan perempuan itu. Tapi dengan dirinya sendiri.

Baru saja ia menghabiskan separuh perjalanan mereka dalam diam, ia tenggelam. Kontan ia merasa bersalah, ia baru saja meninggalkan perempuan itu sendirian di atas motor secara tak kasat mata, dan pergi menelusuri isi kepalanya. Secara berkala ia sengaja memainkan tangannya di telapak tangan perempuan itu, sekadar menggenggam atau mengecup punggung tangan. Seolah ingin memberitahu, ia masih di sana, meski pikirannya telah jauh menjelajah ke antah berantah.

Angin bermain-main dengan rambut ikal pendek yang sengaja tak ia tutupi helm. Udara malam selalu bisa membuatnya segar, tapi tidak malam ini. Entah kenapa. Kepalanya dipenuhi suara-suara, seperti biasa, hanya saja kali ini ia tidak bisa mengenyahkannya. Ia tengadah melihat awan, tersenyum, hampir menertawakan dirinya. Suara-suara itu juga tertawa, meski satir. Suara dalam kepalanya membuat segala yang ia lihat terasa lucu, seperti efek sesudah menghisap ganja. Tapi ia belum mau dianggap gila karena tiba-tiba tertawa tanpa sebab, maka digigitnya lidahnya dan menutup mulut rapat-rapat.

Masa lalu menyergapnya beberapa puluh meter sebelum tempat tujuan. Ia membentengi, memaksa diri kembali pada realita. Disodorkannya pipi ke arah perempuan itu, sebuah kecupan mendarat di sana, tapi tak ada hangat seperti biasa, ada rongga yang tak terisi dan tetap hampa. Ia tahu ada yang salah.

Bukan, bukan dengan perempuan itu. Tapi dengan dirinya sendiri.

Baru saja ia teringat betapa menyedihkannya dirinya, yang berusaha begitu keras menikmati dimanja, membiarkan harga diri dikangkangi lembaran-lembaran rupiah oleh orangtuanya. Berdalih sedang mengejar mimpi, padahal ia tahu persis mimpi-mimpinya berada di hamparan kehidupan tanpa ikatan. Ia adalah sang pengembara, dan kewajiban-kewajiban ini adalah tirani. Ia adalah tahanan dari pengharapan yang selalu ia benci. Tahun-tahun, membuatnya menjadi seseorang yang berbeda, seseorang yang biasa saja dan sama sekali tidak istimewa. Padahal di buku-buku yang dulu selalu ia baca, ia dapat menggambarkan dirinya sebagai si tokoh utama. Ia kembali menahan tawa, ia sadar betul bahwa ia tak sedang menyesali masa lalunya. Kepalanya berbicara dalam bahasa asing yang ia tak mengerti, ia mulai letih.

Sepeda motor berhenti di depan rumah berpagar hijau tua yang telah pudar warnanya. Perempuan itu turun, ia pun. Tak ada kecup seperti biasa. Perempuan itu sedang menahan sakit yang tak bisa ia gambarkan, sementara dirinya sedang berkutat dengan musuh abadi, isi kepalanya sendiri. Rasa bersalah menyeruak ke rongga dadanya, seharusnya ia bisa lebih sedikit memberi perhatian selayaknya seorang pasangan yang baik. Tapi ia sudah kehabisan daya bahkan untuk satu dua kata, ia melemah. Ia pergi dari sana setelah mengucapkan salam pisah sekenanya.

Malam itu, setelah sekian lama mereka tidak berjumpa, isi kepala mengalahkannya mentah-mentah.

***

[Jakarta, 25 Juni 2012]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s