Lingkar

Matanya selalu berputar saat hari menjelang fajar. Seperti mencari, entah apa. Sesudahnya, dia sering tertegun menatap tepian jendela, kadang ke jalan-jalan yang mulai padat di bawah, kadang hanya menatap lurus ke langit di depannya. Sesekali ia ditemani kopi, biasanya ia akan mengeluh pusing sesudah itu. Katanya, kadar kafein di satu bungkus kopi instan pun sudah tak bisa diterima tubuhnya yang mendadak lemah setelah kenakalan-kenakalan bodoh semasa remaja. Namun pada pagi-paginya, tak sekalipun musik alfa menemani. Kita tak butuh alasan untuk mendengar musik indah, katanya. Matanya selalu berputar saat hari menjelang fajar. Seperti mencari, entah apa. Pernah aku bertanya suatu kali, tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya.

Aku mengenalnya baru beberapa bulan ini saja. Dua bulan sesudah kami mengikat pertemanan, kami memutuskan untuk hidup bersama dengan menyewa sebuah apartemen sederhana yang lebih dari sekedar cukup untuk dua orang perempuan muda. Aku sering memperhatikannya, tak ada yang istimewa. Dia tak juga terlihat seperti orang yang menderita gangguan jiwa, apalagi gila. Semua tentangnya sama seperti manusia kebanyakan. Ceria, begitu terbuka, kupu-kupu sosial yang digemari semua kalangan. Dia bahkan lebih pintar bergaul daripada aku yang selalu mati kutu di depan orang baru. Keanehannya hanya muncul menjelang waktu-waktu itu. Waktu-waktu di mana lidahnya menjadi kelu, tubuhnya mengejang kaku, lalu seolah ia baru saja selesai melakukan pekerjaan berat, keringat akan membanjiri wajahnya dan helaan nafas berat akan menghembuskan asap samar dari mulutnya yang jarang lekang dari batang-batang rokok.

Sudah tiga bulan sejak tinggal bersamanya, bukan sekali atau dua aku menanyakan alasan keanehannya. Tapi dia akan selalu bungkam dan membungkamku dalam diam. Lalu aku akan duduk di sampingnya, di lantai teratas gedung apartemen ini, atau di tepi jendela apartemen sederhana kami, menikmati migrasi matahari dari belahan dunia lain, menyapu wajah kami, membuat buta mata kami selama beberapa detik. Aku yang memang tak gemar banyak bicara, dengan cepat beradaptasi dengan ritual ini.

Sempat aku berpikir, saat melihat gerakan matanya, mungkin ia sedang berlari dari cahaya matahari yang akan membiaskan sinar pada kornea. Menikmati rasanya menghindar, untuk kemudian dengan pasrah membiarkan cahaya pagi yang berwarna putih kekuningan, menyapu seluruh lekuk wajah dan tubuh yang dapat dicapainya. Tapi entah di sudut mana dalam kepalaku yang bersikeras, bukan itu yang selalu dia lakukan. Rasa ingin tahuku yang semakin besar kian hari, berbanding terbalik dengan keinginan bibirku untuk kembali bertanya tentang alasan padanya. Tak sedikit aku menelan kalimat saat berhadapan dengannya. Aku dan dia bagai dua benua. Dia adalah Asia yang tropis dan cerah ceria, aku mungkin benua Antartika yang kaku diselimuti es dingin dan cuaca beku. Terhadapnya, yang kutemui begitu berbeda, aku lupa cara mengintonasikan kalimat tanya.

Hampir setahun lamanya aku menjadi teman hidupnya, teman hidup di satu rumah. Ia adalah orang paling ceria yang pernah kutemui. Sampai kadang jengah aku melihatnya menjadi baduti. Katanya, tak ada yang hebat dengan berdamai dengan diri sendiri. Yang hebat adalah berdamai dengan toleransi tanpa batas dari dalam diri, untuk menyamankan telinga dengan basa-basi sana-sini. Tapi pada ritual paginya, dia menjelma menjadi seseorang yang seolah paling menderita sedunia. Lagi-lagi, aku menghentikan harapan untuk menemukan jawaban di pangkal lidah dekat tenggorokan. Tak cukup berani untuk kulontarkan. Padahal aku tak mengerti apa yang kutakuti.

Suatu malam ia pulang dalam keadaan mabuk. Bukan yang pertama, tapi sebelumnya tak pernah terlalu parah, biasanya ia cukup tahu batas kemampuannya. Malam itu ia jatuh tersungkur di depan pintu saat kubuka pembatas berkunci tersebut. Aku memapahnya menuju sofa. Kutinggalkan ia untuk mengambil pakaiannya di lemari dalam kamar, dan air untuk membersihkan sisa-sisa muntahan di wajah dan kemeja biru mudanya. Saat itu kulihat ia sudah duduk di tepian jendela. Aku setengah berlari menghampirinya, takut keseimbangannya yang terpengaruh alkohol dapat membuatnya jatuh dari lantai sepuluh ini. Menjelang langkah terakhirku, kulihat tatap mata nanar itu lagi. Mata yang begitu liar berputar. Aku menengok ke arah jendela yang terbuka lebar, hari sudah hampir fajar. Aku memutuskan diam dan memberikan waktu untuk melakukan ritual hariannya. Mata itu lalu berhenti berputar, menatap lurus ke langit di depannya yang perlahan berubah warna sedari biru tua hampir abu-abu, ternodai sinar kuning yang menerobos barisan awan kelabu. Ada air mata yang jatuh perlahan di ujung mata kirinya. Aku terkejut, ini pertama kalinya aku melihat ia menangis.

“Apa yang kau cari?” Aku putuskan, jika ternyata tak kutemukan juga jawaban, aku bersumpah untuk mengubur dalam-dalam semua kalimat tanya untuknya.

“Aku mencari masa lalu, Kawan,” jawabnya setelah hening menjadi jeda cukup lama, tepat sesaat aku hampir saja menyerah. Aku sudah menemukan jawaban yang kumau, tapi kemudian hadir pertanyaan baru. Sial, aku sudah tahu akan begini, itu sebabnya aku tak mau bertanya. Karena pasti ada rentetan sesudahnya, seperti lingkar yang tak pernah berhenti di satu sudut, terus menyambungkan garis berputar tanpa habis. Kurasa itu sebuah sifat mendasar manusia, untuk menginginkan lebih dari yang seharusnya ia dapatkan. Aku menggigit lidahku, membiarkan ia menjadi mati rasa di dalam bibir yang sengaja kututup rapat-rapat.

Kemudian ia melanjutkan, “Pada butir-butir sinar yang berpendar menyapu malam menuju hari baru, ia selalu hadir di depan mataku. Tapi aku tak pernah menangkapnya dengan sempurna. Bayang-bayang masa lalu itu. Sungguh, aku tak ingin merubahnya. Aku hanya ingin mengenangnya dengan utuh. Tapi bertahun-tahun aku mencoba pun, aku tak pernah mampu.”

Tetes air dari sudut matanya semakin cepat turun mengikuti tekanan gravitasi. Seolah tetes-tetes itu adalah tsunami besar, mereka menyapu pertanyaan-pertanyaan dalam kepalaku.

“Aku tidak pernah mampu,” ulangnya sembari menundukkan wajah melihat lututnya yang diposisikan rapi berdampingan. Aku melihat cahaya matahari menyapu rambut hitam ikalnya yang berantakan, sisa-sisa kekusutan tadi malam. Aku masih tidak mengerti, mungkin tidak akan pernah mengerti, namun aku putuskan untuk merasa puas dengan mengusap pelan punggungnya yang terlihat begitu kesepian.

Sudah lima tahun kami hidup bersama, menjadi teman berbagi rumah dan berbagi cerita. Aku sudah berhenti bertanya, dan entah sejak kapan menggantinya dengan kisah-kisah. Bukan karena ia telah berubah, bukan. Ia masih saja melakukan ritual itu. Duduk menatap tepian jendela, atau jalan yang mulai padat di bawah. Lalu menjelang fajar, matanya selalu berputar. Seperti mencari, mencari masa lalu, katanya. Entah masa lalu yang mana, aku sudah berhenti bertanya. Karena ternyata tanpa jawaban, aku bisa mengerti dengan lebih mudah.

[Jakarta, 21 Maret 2012]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s