Sebuah Bab di Sebuah Masa

Kamu pernah menemukan sebuah barang yang kamu pikir telah lama hilang, kemudian terasa seperti dilempar kembali ke masa lalu? Saya mengalaminya saat ini, ketika saya menemukan sebuah lagu tengah malam tadi.

Lagu ini dulu favorit saya saat masa-masa jahiliyah. Iya, masa saya masih abg yang sebenernya gak cute sama sekali. Sebetulnya saya sudah mendengar lagu ini dari SMP, namun saat menginjak bangku SMA, situasi saya lebih pas dengan liriknya. Ceritanya, ini adalah soundtrack sebuah bab di dalam hidup saya.

Bab itu saya namai pembelajaran pertama. Saat butir penghasil dopamine dikonsumsi sampai terasa kebas kepala saya, saat kemudian serbuk pemicu endorphin lebih terasa menyenangkan di otak remaja milik saya, saat zat kimia lain racikan manusia menemukan rumah baru mereka, tubuh saya. Lalu mereka bekerja sama semua di dalam sana, membawa saya lari dari ekspektasi-ekspektasi yang tidak terealisasi.

Bab itu bukan hanya berisi soal kenakalan remaja dengan obat-obatan biasa, adapula fase penemuan jati diri. SMA adalah masa saya meyakini dan belajar menerima diri saya apa adanya. SMA adalah masanya saya pertama kali menjadi egois, hingga keterusan sampai sekarang.

Bab itu diwarnai pula dengan drama-drama seputar kehilangan orang-orang tersayang, teman, sahabat, hingga mendapat musuh yang cukup banyak jumlahnya. Dimana saya mulai belajar siapa kawan dan siapa lawan.

Bab itu dipenuhi percobaan-percobaan memahami kinerja hati dan logika. Ketika self-control yang begitu sempurna sengaja dirusak hanya untuk merasakan akibatnya. Ketika berbaur dengan manusia lain saya lakukan karena sepertinya itu yang harus dilakukan. Ketika bersikap eksklusif harus dihentikan dan mengakui bahwa bertingkah anti-sosial hanya berarti membiarkan saya menjadi pengecut selamanya. Ketika perjalanan-perjalanan baru dimulai karena keberanian untuk mendobrak daerah nyaman.

Bab itu juga merangkum cerita tentang kebanggaan seorang remaja terhadap dirinya, hancurnya kebanggaan tersebut, kebangkitan kebanggaan tersebut menjadi kesombongan, runtuhnya kesombongan itu, hingga lahirnya seorang individu baru yang tetap bangga terhadap dirinya sendiri, namun memilih bersikap sombong sebatas dalam hati saja.

Bab itu membuat saya selalu tertawa ketika melihat anak SMA, sekarang, 5 tahun sesudahnya.

“Aku telah rasakan, dunia gelap dan terang, menawarkan semu. Menjauh ke angkasa, lalu dihempas badai. Tertatih aku berdiri.”

-Utopia, Feel

Sudah tercebur dan sudah menjejak kembali ke daratan. Sudah mencoba basah dan belajar sabar menunggu bekasnya mengering. Sudah memaki dan sudah pintar memohon maaf. Sudah pernah menghancurkan dan kemudian berusaha memperbaiki. Sudah meludahi dan syukurnya, tak pernah menjilat kembali. Saya sudah melewati semua dan bertransformasi menjadi apapun kecuali si munafik.

“Hitam menyelimuti saat semua jauh dariku. Tak akan aku mati biar semua tinggalkan aku.”

-Utopia, Feel

Saya sudah pernah mengira hidup akan berakhir ketika kehilangan banyak hal, dan sudah membuktikan bahwa saya masih tetap bernafas meskipun telah kehilangan segalanya yang pernah saya banggakan.

***

I guess I knew it all along,

“I was never good. I was great.”

[Stabat, 12 Maret 2012]

*Terimakasih, Lagu… Malam ini kamu lebih hebat dari Mario Teguh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s