Iqra – Bacalah

Iqra – Banyak orang yang salah menafsirkan ayat pertama dalam Al-Quran ini. Saya tahu, kalimat pertama tadi mungkin baru saja membuat anda mengernyitkan kening. Ini bukan tentang saya yang tiba-tiba mendapat hidayah dan menulis sesuatu yang religius. Postingan ini juga bukan sesuatu yang menginspirasi seperti kalimat-kalimat basi Mario Teguh, saya tidak se-super dia, tentunya. Tulisan ini akan menjadi sebuah tulisan biasa tentang sebuah opini yang sederhana. Tulisan ini masih akan seperti tulisan-tulisan lain yang pernah saya ciptakan, begitu subyektif, dan penuh ke-aku-an.

Kembali pada permasalah Iqra, saya yakin hampir seluruh manusia, terutama yang beragama Islam, mengetahui arti kata Iqra itu sendiri. Bacalah, begitu pengertiannya. Tahu, tapi apakah kita benar-benar mengerti, paham terhadap makna di balik kata “bacalah” itu sendiri?

Perintah itu bukan semata tentang perintah untuk membaca Al-Quran atau kitab-kitab pemandu umat lainnya. Bukan semata-mata tentang tulisan yang dibaca dengan mata, dan dicerna dengan logika. Saya yakin, kata perintah tersebut menyimpan lebih banyak makna.

Saya membaca, tidak hanya apa yang tertulis dalam aksara. Saya membaca pertanda, saya membaca isyarat, saya membaca petunjuk yang disajikan melalui mata. Saya membaca dengan kepala, apa yang didengarkan oleh telinga. Saya membaca, apa arti dari setiap sentuhan yang disalurkan melalui organ perasa seperti kulit dan lidah. Saya membaca aroma-aroma yang disampaikan oleh hidung kepada akal. Saya membaca setiap kesalahan yang kemudian menjadi pembelajaran. Saya membaca pilihan-pilihan yang disajikan. Saya membaca setiap pertanyaan, untuk kemudian saya simpan, hingga saya temukan jawaban di tempat lain. Saya membaca semua yang disajikan semesta.

Saya yakin, saya tidak sendiri. Ada milyaran manusia lainnya yang juga turut membaca. Meski apa yang disajikan semesta dan isinya tidak akan pernah sama dari sudut pandang tiap pasang mata di dunia. Itu sebabnya, pengalaman yang sama akan menghasilkan pembelajaran yang berbeda bagi setiap individu. Karena kita membaca hal yang berbeda.

Saya bisa saja membaca tentang keegoisan seorang manusia dari sikapnya menolong orang lain yang membutuhkan. Saya membaca sebuah tindakan yang dia lakukan untuk menghindarkan dirinya dari perasaan bersalah, karena kemanusiaan menuntutnya untuk menolong. Sementara orang lain mungkin dengan mudah dapat membaca dari sudut yang lebih positif, seseorang yang menolong orang lain, melakukannya karena itulah tindakan yang paling tepat dilakukan bagi yang membutuhkan.

Saya bisa saja membaca bahwa kesalahan yang terjadi di masa lalu adalah batang-batang emas yang sangat berharga, dan dapat berguna sewaktu-waktu. Sementara di mata orang lain, kesalahan tersebut bisa saja hanya sebuah kebodohan yang patut dilupakan.

Saya bisa saja membaca bahwa urutan A akan dilanjutkan dengan kejadian B, yang kemudian diteruskan oleh C, D dan E. Namun dalam sudut pandang mata manusia lainnya, peristiwa linier bisa saja terlihat begitu klise dan memperkirakan bahwa setelah A, tak menutup kemungkinan akan diteruskan oleh C.

Ah, bicara apa saya ini?

Padahal saya hanya ingin bercerita mengenai sebuah pepatah entah dari mana yang samar-samar saya ingat berkata,

“Don’t read the lines, but read what’s between the lines.”

Saya tak percaya apa yang saya lihat dalam sekali sapu pandang saja. Saya terbiasa dengan didikan untuk membaca apa yang tersembunyi. Dalam perumpamaan kasar, saya lebih senang membaca kekurangan dan keburukan saja, karena kebaikan-kebaikan hanya untuk menghibur-hibur diri dengan penampakan yang indah.

Maka jika seseorang menjadi terlalu baik, saya cenderung merasa curiga. Pernah seorang berkata, bila begitu, sulit bagi saya untuk bahagia. Saya rasa dia salah. Karena nyatanya, mereka yang lebih gemar memandang keindahan akan lebih kecewa saat melihat keburukan-keburukan di baliknya. Berbeda dengan saya yang lebih senang melihat kekurangan, saya sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan-kemungkinan terburuk. Sementara yang baik tersebut, saya anggap sebuah bonus yang bila tiba akan membuat gembira, namun jika tak ada, tak saya harapkan juga.

Saya sudah melakukan itu sejak tahunan yang lalu. Namun saya sempat lupa, bahwa selain membaca, kita pun turut menulis cerita. Apa yang kita tulis, tentunya akan mempengaruhi kisah yang disajikan semesta. Saya menyadari itu beberapa tahun belakangan. Membaca ternyata tak cukup, jika tak disertai dengan tindakan, untuk mendukung kita sampai pada sebuah kesimpulan yang diinginkan. Jadi, bacalah, karena itulah bahan pertimbangan saat menulis nanti.

Oke. Sebelum semakin meracau, saya akan berhenti di sini.

[Jakarta, 11 February 2012.]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s