Fenomena (Mencela) Boyband

Sebenernya sih gue gak mau terlalu ambil pusing dengan fenomena boyband yang lagi nge-trend. Gue juga bukan orang yang dengan senang hati ikut mengadopsi fenomena mencela boyband, yang bahkan lebih nge-trend saat ini. Tapi kok ya semakin kesini, orang-orang yang mencela boyband-boyband KW-an itu, malah semakin terlihat bodoh di mata gue?

SM*SH adalah contoh paling gampang. Objek celaan khalayak ramai. Tapi toh, gak kalah banyak yang nge-fans abis sama (tampang) mereka. Suara, ngepas banget. Kemampuan nge-dance? Cuma 2 di antara 7 yang bener-bener bisa “nari”. Tampang juga sebenernya biasa aja. Nangkring sejam dua jam di Senayan City deh, pasti nemu lebih banyak cowok-cowok yang jauh lebih “unyu” dari mereka.

Oke, mereka emang punya segudang alasan buat dicela.

Sayangnya, celaan itu akan menjadi tolol ketika ada yang membanding-bandingkan mereka dengan Super Junior dari Korea. Mungkin emang gaya mereka tiru-tiru orang sono noh, tapi bukan berarti orang gak boleh terinspirasi, kan? Segaknya, mereka gak terang-terangan ngejiplak boyband-boyband dari Korea kok.

Kenapa gue bilang membandingkan SM*SH dengan SuJu adalah tindakan bodoh? Karena gw yakin, SM*SH-nya sendiri cukup tau diri untuk gak menyama-nyamakan diri dengan boyband yang beranggotakan hampir separuh warga satu RT itu. Bayangkan, boyband dengan anggota sebanyak mereka, semuanya bisa nyanyi. Suaranya bagus pula! Semua juga bisa nge-dance dengan ciamik. Ya meskipun yang namanya Hee Chul masih suka kewalahan ngikutin gerakan personil lain, tapi bolehlah. Tampang? Jangan tanya lagi. Badan boleh kurus, tapi sehat, bersih dan sedap dipandang. Bandingkan dengan SM*SH?

Stop! Jangan ikutan bodoh.

SM Entertainment, pihak yang membentuk SuJu sendiri, membutuhkan waktu yang sangat lama sebelum akhirnya memilih 13 pria, dari ribuan yang ikut audisi. Kualifikasi yang diminta pun bukan sekedar memiliki wajah tampan dan pintar bernyanyi, masih banyak kualifikasi yang cuma mereka dan Tuhan yang tahu. Dan ketika akhirnya mereka terpilih pun, pihak SM Entertainment tidak serta merta langsung me-launching mereka. Masih ada proses pembentukan. Dimana para anggota SuJu dibina kemampuan dan mentalnya, menjadi seorang entertainer. Karena, Korea ternyata adalah negara dengan statistik “artis yang mati bunuh diri” tertinggi di dunia. Itulah kenapa SM Entertainment mematangkan dulu mental lelaki-lelaki tampan dan muda tersebut sebelum benar-benar dirasa siap memasuki industri showbiz yang bisa saja membuat mereka kehilangan nafsu untuk hidup.

Jadi, kalau kita mengetahui sejarah terbentuknya SuJu, lalu membandingkannya dengan SM*SH, apa bukan kita yang terlihat tolol?

Gue pernah baca di suatu tempat entah, lupa. Ada sebuah quote yang bilang bahwa tingkat intelektual seseorang bisa dinilai dari sense of humour-nya. Nyela orang lain emang paling nyenengin. Tapi ketika bahan celaan yang biasanya itu-itu aja kemudian terasa garing, dan lo mulai mencari-cari hal lainnya, hati-hati… Jangan sampai lo malah jadi orang berikutnya yang ditertawakan.

***

Jakarta, 7 November 2011

2 thoughts on “Fenomena (Mencela) Boyband”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s