Transjakarta Bukan Solusi

Rabu, 14 September 2011, hari saya dimulai dengan cukup menyebalkan. Iya, menunggu Transjakarta hingga satu jam itu menyebalkan. Bukannya tidak datang, hanya saja setelah setengah jam saya menunggu dan akhirnya bus pertama menampakkan batang spionnya, ternyata di dalam sudah penuh sesak hingga tak bisa mengangkut tambahan penumpang satu orang pun.

Bus yang melintasi halte tempat saya menunggu berikutnya kembali penuh, berturut-turut hingga 4 bus sudah melewati kami, para pengantri tanpa mengangkut penumpang. Lucunya, mereka tetap membuka pintu meski menghalangi kami untuk masuk. Mungkin mereka berharap ada penumpang yang turun. Saya berusaha berpikir positif, bisa jadi beberapa bus sebelumnya sengaja dibiarkan penuh sedari halte busway Ragunan, yang merupakan terminal pemberangkatan untuk jalur Dukuh Atas – Ragunan, dan akan ada satu atau dua bus di belakang yang dikosongkan untuk mengangkut penumpang di halte-halte berikutnya. Tapi ketika empat puluh menit kemudian berlalu dengan hal serupa, saya memutuskan menyerah dan melangkah keluar dari halte buswat Pejaten Philips, tempat saya menunggu sejak sejam lebih yang lalu.

Dekat loket pintu masuk halte, saya sempat bertanya kepada penjaga karcis.

“Kok daritadi penuh terus, gimana kita mau naik, Mas?”

“Ya emang penuh, terus gimana?” Jawab si penjaga acuh tak acuh, malah cenderung ketus.

Saya masih dengan nada manis menahan emosi bertanya lagi, “Kan halte ini hanya 3 atau 4 halte dari Ragunan, kalau di sini aja udah gak kebagian tempat, apalagi di halte-halte berikutnya? Kenapa dibiarin penuh dari terminal awal, gak pada kepikiran hal kayak gini ya?”

Si penjaga diam dan melengos pergi menghampiri penumpang yang baru saja hendak memasuki halte, berpura-pura sibuk merobek karcis tanpa berniat menjawab pertanyaan saya. Saya menarik nafas, dan mengurungkan niat untuk mengeluarkannya kencang-kencang di depan muka si mas mas tadi. Saya lalu pergi.

***

Kejadian seperti tadi pagi sebenarnya bukan yang pertama kali saya alami. Bahkan hampir setiap pagi, anda akan menemukan pemandangan serupa di halte Pejaten Philips tersebut. Anda akan melihat kerumunan orang mengantri naik Transjakarta, dan lama mereka menunggu hingga sejam bahkan dua jam sampai akhirnya mendapatkan tempat di dalam bus.

Anehnya, ketika saya naik Transjakarta dari halte Dukuh Atas ataupun Blok M, hal seperti ini hampir tidak pernah saya alami. Berbeda dengan bus Transjakarta di jalur Ragunan menuju Dukuh Atas, bus transjakarta dengan jurusan Dukuh Atas – Ragunan atau Blok M – Kota, dibiarkan tidak penuh pada halte pertama hingga halte kelima. Jumlah penumpang yang naik juga terus dibatasi setiap haltenya. Awalnya ada rasa dongkol karena sudah lama mengantri dan saat bus datang, jumlah penumpang yang diangkut sangatlah terbatas. Biasanya setelah semua bangku terisi penuh, maksimal hanya lima orang yang boleh berdiri, lalu bus akan bergerak maju, seolah tak peduli banyaknya manusia yang mengantri sejak tadi. Tapi setelah setengah tahun menjadi penumpang setia bus transjakarta, saya bisa melihat manfaatnya.  Dengan cara seperti itu, pihak pengelola memberikan kesempatan yang sama pada para penumpang di setiap halte untuk bisa menggunakan jasa bus Transjakarta.

Dari telaah singkat, saya menyimpulkan bahwa letak kesalahan ada di pengelola halte Ragunan. Namun begitu, pengelola pusat pun patut dikoreksi karena  telah membiarkan hal ini terjadi dan berlarut-larut akibat kurangnya pemantauan.

Hal ini jelas sangat merugikan, sebab semua penumpang membayar dengan jumlah yang sama untuk menikmati fasilitas yang sama. Himbauan untuk meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih ke transjakarta agar tak terjebak macet pun masih perlu dicermati lagi. Sepertinya Transjakarta hingga saat ini, belum siap untuk dijadikan sebuah solusi.

***

[Jakarta, 14 September 2011]

2 thoughts on “Transjakarta Bukan Solusi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s