Gempa di Aceh Singkil

Baru saja pukul 00.15 yang lalu, daerah Sumatera Utara kembali diguncang gempa. Di tempat saya sendiri, Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat, gempa tersebut terasa cukup kuat. Sentakan pertama terasa pelan, kemudian menjadi kuat dalam sepersekian detik. Cukup membuat saya yang sebelumnya sedang duduk di lantai keramik, melompat terkaget.

Saya segera berlari ke arah kamar saudara lelaki saya, memanggilnya untuk membawa anak dan istrinya keluar rumah. Keadaan kemudian mulai tenang ketika gempa berhenti, saya berusaha sangat keras mengontrol diri agar tidak panik. Namun demikian, tidak sampaiĀ  1 menit sesudah guncangan pertama menyapa kami, guncangan kedua yang jauh lebih kencang, datang. Beruntung kami semua sudah berada di halaman belakang rumah.

Setelah itu gempa kembali berhenti, namun lebih cepat dari sebelumnya, guncangan berikutnya menyusul. Dengan kekuatan yang kurang lebih terasa sama seperti guncangan kedua, yang ketiga ini menggoyang kami lebih lama dari terdahulunya. Diikuti oleh beberapa gempa kecil sesudah tiga sentakan mengagetkan tersebut, akhirnya tanah yang kami pijak benar-benar berhenti bergoyang.

Panggil saya internet-addict, tapi saya langsung berlari mendekat ke arah laptop yang masih menyala, dan segera mencari informasi tentang gempa barusan. Berikut informasi paling awal yang saya temukan.

dikutip dari akun @infoBMGK di twitter:

Gempa Mag:6.7 SR,06-Sep-11 00:55:12 WIB,78 Km,(59 km TimurLaut SINGKILBARU-NAD )

yang disertai gambar pemetaan lokasi gempa sebagai berikut:

13152501631813398711

Jika titik merah yang dimaksud adalah lokasi pusat terjadinya gempa, maka ada kesalahan pada informasi tersebut. Seharusnya daerah tersebut bukanlah Singkil Baru, melainkan Kabupaten Aceh Singkil, Kecamatan Suro Baru.

Hal ini akhirnya diklarifikasi oleh kerabat saya yang kebetulan berada di Singkil Aceh. Kerabat saya melaporkan bahwa gempa yang dirasakan di sana amatlah kuat, hingga membuat piring dan gelas berjatuhan seolah melompat dari raknya masing-masing. Beruntung penduduk di sana banyak yang menghuni rumah panggung khas masyarakat Melayu, yang terbuat dari kayu, maka berdasarkan laporan matanya, belum ada rumah yang roboh karena gempa tersebut.

Komunikasi ke daerah Singkil Aceh dapat dikatakan lancar dan tidak terganggu. Hanya saja, segera setelah gempa, listrik padam tiba-tiba. Hal ini cukup membuat kepanikan bagi warga sekitar, karena padamnya listrik membuat mereka kesulitan mencari informasi.

Saya mengagumi bagaimana Social Media dan Network Blogging membantu penyebaran informasi menjadi lebih mudah dan cepat diakses. Namun begitu, sayangnya banyak media maupaun individu yang lebih mengutamakan penyampaian berita secara aktual, daripada secara benar. Sehingga banyak penyimpangan informasi karenanya.

Seperti beberapa teman yang meng-update twitter dan berkata, Sibolga jauh dari pusat gempa, harusnya aman-aman saja. Padahal, setelah diteliti lebih jauh, pusat gempa berada di perbatasan Tapanuli Tengah dan Aceh Selatan.

Bila anda perhatikan lagi gambar pemetaan gempa di atas, di dekat titik merah, anda akan melihat gambar dari Danau Toba. Bagi yang belum pernah atau tidak mengerti Sumatera Utara, tentulah merasa bingung bagaimana gempa di satu titik bisa terasa begitu jauh. Tapi orang Medan atau orang Sumatera tentu mengerti, bahwa jalur di sekitar Danau Toba menghubungkan Tapanuli, Medan dan Brastagi.

Ya, beberapa orang melaporkan bahwa Brastagi pun mengalami efek guncangan yang cukup kuat. Mengingat keterangan di atas, tentu hal ini bukan sesuatu yang aneh. Sebab, secara tidak langsung Aceh Singkil berbatasan dengan tepian daerah Tanah Karo, Brastagi.

Lalu, bagaimana bisa Medan, bahkan Kabupaten Langkat yang berada jauh dari Brastagi maupun Danau Toba, merasakan guncangan dengan kekuatan yang tidak jauh beda? Hal ini dikarenakan letak dari Kabupaten Aceh Singkil itu sendiri, yang sebagiannya termasuk di kawasan Taman Nasional Hutan Leuser. Di mana sebagian lagi wilayah Taman Nasional tersebut berada di Kabupaten Langkat. Maka adalah sangat wajar ketika gempa yang terasa di kota Medan bisa merobohkan berpuluh-puluh tiang listrik, dan menyebabkan padamnya listrik kurang lebih 45 menit lamanya.

Begitulah sekilas reportase dan penjelasan saya mengenai gempa di Aceh Singkil, yang juga saya rasakan di Stabat, Langkat. Apabila ada kesalahan dalam data yang saya tuliskan, mohon dibenarkan. Bagaimana pun, kemajuan tekhnologi, seharusnya diikuti tanggung jawab agar lebih pintar mengolah dan menyaring informasi sebelum disebarluaskan.

Hingga saya menulis reportase ini, saya mendapat kabar bahwa masyarakat di Aceh Singkil sudah lebih tenang dan perlahan telah masuk kembali ke dalam rumahnya. Belum ada laporan maupun informasi tentang kerusakan parah maupun korban jiwa yang saya ketahui, dan semoga tetap begitu adanya.

Amin.

***

Stabat, 6 September 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s