Atas Nama Sumpah

Langkah kaki terdengar berderap-dereap. Sepasang sepatu boot beralaskan tapak yang tebal memukul-mukul lantai kapal. Seorang pelaut berlari dengan cepat.  Deru nafasnya memburu, peluh membanjiri lehernya yang panjang, namun kekar dan legam terbakar matahari. Pakaian kebanggaannya yang berwarna biru dengan kancing paling bawah terbuka dua, berkibar-kibar diterpa angin. Sempat disesalinya kesalahan urutan mengancingkan baju tadi, karena panik, tak sempat dia berbenah pakaian dengan layak.

“Tok tok tok!!” Diketuknya pintu kamar sang kapten dengan terburu-buru.

Pintu dibuka, seorang pria berumur tiga puluh yang gagah, berdiri di depan mukanya.

“Lapor, Kapten!” Satrio mengangkat tangan kanannya, memberi penghormatan.

“Silahkan,” Kapten menjawab singkat.

“Ada dua kapal nelayan dengan jarak kurang dari tiga puluh meter di depan kita, Kapten! Laporan selesai!” Satrio mengakhiri laporan dengan sikap siaga di tempatnya.

Kapten yang mendengar laporan tersebut tak bersuara sepatah kata pun, dengan cepat dia berlari menuju anjungan kapal, tempat kendali kemudi berada, Satrio menyusul di belakang.

“Wah, sudah gak keburu ini,” Kapten Joan berkata dengan nafas tersengal, segera setelah dia menginjak anjungan dan memeriksa radar. “Jarak dua kapal itu sudah terlalu dekat, gak mungkin kita elakkan. Bunyikan saja klakson kapal dan lonceng, sebagai pertanda,” lanjutnya.

“Satrio!” Panggilnya.

“Siap, Kapten!” Sahut Satrio.

“Ajak Garin dan Danang, turun ke bawah. Saat kapal menabrak mereka, kalian turun ke bawah, pastikan mereka mati.” Kapten Joan berkata sambil membunyikan lonceng kapal, memanggil anak buahnya.

Melihat Satrio yang masih diam di tempat, Kapten Joan membalikkan badannya dan berkata dengan tenang,

“Sejak puluhan tahun yang lalu, para nelayan sudah tahu hingga batas mana mereka boleh mencari ikan, dan batas mana kapal angkatan laut akan melintas. Tapi masih saja mereka tak peduli. Kalau mereka dibiarkan hidup, korps kita akan mendapat masalah. Ganti rugi kecelakaan, santunan keluarga korban, belum lagi urusan ke pers dan media. Masyarakat mana mau tahu mereka yang salah. “

Satrio masih diam di tempatnya.

“Kadang, menjadi tentara harus berani mengambil keputusan paling sulit sekalipun. Prioritasmu adalah mematuhi kata-kataku di atas kapal ini. Belajarlah sejak sekarang, suatu hari nanti, kau yang akan berdiri di sini.” Kapten Joan menepuk pundaknya.

“Siap… Kapten,” Satrio membalas dengan nada pelan.

***

Di kepalanya masih saja terbayang adegan dia bersama dua rekan pelaut turun dari kapal dalam kegelapan, dan menahan kepala-kepala yang mencoba bangkit dari kedalaman air. Hingga kepala-kepala itu berhenti memberontak dan mengapung terbawa ombak.

Itulah kali pertama dia berlayar, sejak satu setengah tahun yang lalu resmi menjadi taruna angkatan laut. Pelayaran pertama dengan rute dari Surabaya melintasi garis khatulistiwa, merapat ke Sulawesi dan Kalimantan. Meski telah sebulan lebih kejadian itu terlalui, masih tersisa perasaan berdosa di dalam dirinya. Bukan ini yang dia mau, dulu saat memutuskan bersatu dengan korps tentara, dia ingin menjadi pembela negara, bukan seorang pembunuh. Tapi ditepisnya perasaan tersebut dengan sebuah pembenaran, bahwa tugasnya hanya mematuhi perintah orang di atasnya. Sebuah doktrin  saat pendidikan tiga bulan pertama, yang dengan sadar dia biarkan memadati kepalanya.

Satrio mengambil telepon genggam yang disembunyikan di bagian paling dasar tasnya. Hanya saat seperti inilah dia dengan bebas bisa memegang alat komunikasi. Para taruna sudah mulai cuti panjang, beberapa menyempatkan diri pulang ke kampung halaman untuk melepas rindu pada keluarga dan kekasih tercinta, Satrio termasuk di antara mereka.

“Assalamualaikum,” suara di seberang jaringan telepon membuka salam.

“Waalaikumsalam. Adek, di mana sekarang?” Satrio bertanya tanpa basa-basi.

“Di rumah, Bang. Abang sudah mulai cuti ya hari ini?” Si perempuan yang segera tanda suara tunangannya menyahuti.

“Iya. Ini abang sudah di bandara, sejam lagi terbang dari Jakarta. Abang mau main ke tempat adek, dari sana nanti baru pulang ke rumah,” Satrio menjelaskan.

“Oh, yasudah kebetulan. Nanti malam ada tahlilan memperingati 40 hari di rumah adek, Abang menginap di sini aja,” sang kekasih menawarkan dengan suara pelan, Satrio menangkap nada duka.

“Siapa yang meninggal, Dek? Keluarga Adek?” Tanya Satrio dengan sedikit cemas.

“Ayah, Bang.” Jawabnya singkat.

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun… Kok bisa, Dek?” Satrio terkejut.

“Hampir dua bulan yang lalu ayah berkunjung ke rumah om adek di Kalimantan, jalan-jalan. Sewaktu di sana, ayah diajak melaut, karena om nelayan. Sejak malam itu, om dan ayah gak pernah lagi pulang. Kapal mereka ditemukan dalam bentuk puing. Kata para tetangga, hal seperti itu sudah banyak terjadi di sana, kapal yang terhempas ombak sampai hancur, tubuh-tubuh yang tersapu ombak entah kemana. Kami ikhlas, kami anggap ayah sudah gak ada, sudah tenang di alam sana.”

Ada duka yang seketika menggantungi tenggorokan Satrio saat itu, mencekiknya hingga tak bisa bernafas. Di seberang telepon sang kekasih masih terus berbicara. Satrio menangis tanpa air mata. Di kepalanya bermain repetisi kalimat jenderal yang paling dikaguminya.

“Sumpah tentara, adalah untuk menutup mulut, menjaga rahasia dan tidak pernah memberitahu kepada siapa pun, kekurangan, serta kejelekan dari kesatuanmu!”

***

Stabat, 1 September 2011

2 thoughts on “Atas Nama Sumpah”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s