Merdeka-kan Indonesia

Sebetulnya saya punya hutang menulis tentang seorang kawan. Si kawan ini, sebut saja Bunga (bukan nama sebenarnya -red), mengaku bahwa selama 22 tahun hidup, dia belum pernah benar-benar menginginkan apa pun, kecuali si oknum O, yang akhirnya membuat dia patah hati. Bunga mengaku bahwa dia seorang pengecut. Dia tahu pasti ketika dia menginginkan sesuatu, maka akan datang keserakahan yang membuatnya menginginkan kesempurnaan. Kesempurnaan tadi bisa diartikan dengan rasa kepemilikan. Ya, Bunga sadar bahwa menginginkan sesuatu, bisa membuat seseorang terobsesi untuk memilikinya.

Saat sedang berpikir mengenai hal ini, tiba-tiba saya teringat tentang negara. Negara kita tercinta, tentunya. Semua orang merasa begitu memiliki Indonesia, mereka bilang, bila kita merasa memiliki, maka kita akan mencoba untuk memeliharanya dengan berbagai cara.

Entah kenapa saya tidak setuju dengan paham seperti ini. Menurut saya, rasa memiliki itu adalah sesuatu yang jahat, dan sesat. Memang betul, ada perasaan ingin menjaga dan melindungi apa pun itu yang kita miliki, tapi rasa kepemilikan membuat kita seringkali menjadi buta dan bodoh.

Contoh yang paling sederhana adalah orangtua. Merasa sebagai orang yang paling mengenal kita sejak masih di kandungan, banyak peran yang sebenarnya tak perlu mereka ambil dalam menentukan jalan hidup anak-anaknya yang nyatanya sudah dewasa. Semua itu berasal dari rasa memiliki orangtua terhadap setiap anak yang mereka lahirkan.

Rasa memiliki itu adalah sesuatu yang sangat personal, yang akhirnya membimbing segala sikap si orang tersebut menjadi sangat subjektif. Dalam konteks pembahasan negara tadi, hal ini adalah sesuatu yang buruk. Rasa memiliki justru bisa menghancurkan keberadaan sebuah negara, bisa menjadi penyebab utama kehancuran persatuan. Kenapa? Karena setiap individu merasa dialah yang paling tahu apa yang terbaik bagi negara ini. Hingga pada akhirnya, memandang rendah pendapat orang lain, terlalu sibuk dengan isi kepala masing-masing.

Kalau saja kita mau melihat dari perspektif lain, maka harusnya kita tahu, Belanda bisa menjajah kita selama 350 tahun justru karena mereka merasa memiliki Indonesia. Para kompeni itu dulu selalu berkata bahwa orang-orang Indonesia belum siap merdeka, mau jadi apa kita tanpa pemerintah Belanda? Dan kita dengan keras kepalanya menuntut kemerdekaan, kita yang merasa sebagai pemilik asli tanah air ini.

Ketika akhirnya beberapa daerah di Indonesia menuntut merdeka dari kesatuan ini pun, dilandasi oleh rasa kepemilikan. Lalu jika rasa memiliki ini dibiarkan berkembang semakin liar, setiap individu merasa berhak atas tanah kelahirannya, bukan tidak mungkin pada waktunya nanti kita akan berperang memperjuangkan kemerdekaan atas setiap jengkal tanah yang kita rasa kita miliki.

Soe Hok Gie pernah mencatat,

Kita tidak pernah memiliki apa-apa, kita tidak pernah kehilangan apa-apa.

Hal itu harus dicamkan baik-baik dalam setiap kepala. Bahwa hasil tambang, hasil tanah, serta kekayaan Indonesia lainnya bukanlah milik kita. Indonesia hanya sebuah nama. Sebuah label yang atas satu kesatuan yang ada. Sejatinya semua ini bukan milik kita.  Seharusnya setiap orang berhenti berceramah tentang apa yang terbaik bagi Indonesia, dan dengan bijak memainkan saja perannya masing-masing sebagai bagian dari kesatuan yang besar ini.

Kita terlahir tidak membawa apa-apa, mati pun telanjang hanya berbalut kain kafan. Maka yang benar-benar kita miliki hanya pengalaman, pemikiran, dan pembelajaran yang didapat semasa hidup. Bukan harta, benda, kekasih, keluarga, apalagi sebuah negara.

Sebelum setiap jiwa yang ada di Indonesia akhirnya menjadi cikal bakal para penjajah, ada baiknya kita berhenti dan merenung sejenak. Mengingat-ingat lagi makna kemerdekaan itu sendiri. Jika benar merdeka berarti bebas, maka bebaskan negara ini, tanah ini, dari rasa kepemilikan yang membelenggu yang ada di benak masing-masing kita.

Biarkan Indonesia merdeka dari opini-opini subjektif. Biarkan dia merdeka, dan berjalan saja pada garisnya. Biarkan sistem bekerja, karena apa pun bentuknya, bagaimana pun caranya nanti, Indonesia pasti bisa menemukan jalannya sendiri. Negara ini sudah 66 tahun, dia sudah dewasa.

Merdekalah, Indonesia!

***

Jakarta, 17 Agustus 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s