Pemanjat Kelas Sosial

Social Climber.

Siapa yang tidak pernah mendengar istilah itu saat ini. Kadang kalimat tersebut dilontarkan sebagai cemooh bagi orang-orang dengan latar belakang ekonomi kelas bawah, yang mencoba memperbaiki nasibnya dengan menikahi orang-orang dari golongan atas.

Socialite.

Rasanya semua orang pun sudah mengetahui apa arti kata tersebut. Kaum socialite, kaum kelas atas dengan gaya hidup serba mewah. Siapa yang tidak menginginkan terlahir sebagai mereka? Semua orang ingin menjadi temannya, semua orang ingin masuk dan menjadi bagian dari para sosialita.

***

Istilah cewek matre sering dikaitkan dengan kedua hal yang sudah disebutkan di atas. Perempuan yang menjalin hubungan dengan pria, semata-mata karena mengincar harta dan kekayaan yang dia punya.

Lalu entah bagaimana, pemanjat kelas sosial atau social climber kini menjadi identik dengan orang yang senang memanfaatkan orang lain untuk mencapai tujuannya menjadi kaum sosialita, lalu mencampakkan orang-orang yang menjadi tangganya, begitu saja.

Oke, oke, sebelum terlalu jauh bermain-main dengan persepsi social climber yang saat ini berkembang di masyarakat, ada baiknya kita lihat kembali sedikit sejarah tentang kaum yang dianggap rendah ini.

***

Napoleon Bonaparte, salah satu tokoh berkebangsaan Perancis yang menjadi panutan hampir di seluruh dunia. Revolusioner aliran keras. Hebat lah pastinya! Tapi tapi, tahukah anda, kaisar Perancis ini ternyata seorang social climber kelas berat!

Nggak percaya?

Jadi begini ceritanya, Napoleon itu punya ayah, namanya Carlo Bounaparte dan seroang ibu, yang menjadi pengaruh terbesarnya bernama Letizia Ramolino. Jauh sebelum Napoleon beranjak besar, ayah dan ibu Napoleon telah melihat anaknya berbeda dengan anak seusianya. Napoleon berpikiran jauh ke depan, dan sangat cermat. Carlo Bounaparte yang merasa bahwa anak keduanya itu akan menjadi orang besar, mulai melakukan aksi jilat menjilat para pejabat. Hal itu nggak susah dilakukan Carlo, karena dia seorang pengacara yang cukup punya nama. Sementara sang ibu? Letizia mendekati para kaum sosialita dan mencari kenalan sebanyak-banyaknya. Tujuan mereka? Agar ketika sudah cukup umur, Napoleon bisa diterima masuk militer. Hasilnya? Kita tentu tahu dari cerita sejarah.

Tapi itu kan orangtuanya? Napoleon bukan social climber, dong!

Saat berusia 50-an (maaf, saya agak lupa), Napoleon yang sudah resmi bercerai dari istri pertamanya, Josephine, akhirnya menikah lagi dengan Marie Louise, putri dari kaisar Austaria. Marie Louise juga adalah keturunan dari Marie Antoinette. Perkawinan itu tentu saja diperkirakan akan membawa kemudahan bagi Napoleon untuk menambah kekuatan melebarkan kekuasaan di daratan-daratan Eropa lainnya.

Mari kita cukupkan sampai di situ saja. Karena kelanjutannya, adalah cerita tentang kekalahan Napoleon akibat diserang oleh Rusia, Austria dan Prussia dan negara-negara sekutu lain, dilanjutkan dengan pengasingan dirinya ke pulau Elba.

***

Masih banyak sebetulnya contoh-contoh social climbing lain yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dunia. Sebut saja Rasputin, atau Thomas Boleyn, ayah dari salah satu ratu Inggris, Anne Boleyn.

Hal ini membuktikan bahwa social climbing tidak hanya dilakukan dengan cara menikahi orang-orang kaya atau berstatus sosial tinggi. Beberapa cara lainnya adalah dengan mencari simpati orang kaya, dan diangkat anak oleh mereka. Cara yang paling awam adalah berteman dan bergaul dengan para kaum sosialita. Hal itu bisa dilakukan meski kita bukan lah orang yang sama kaya, asal bermodalkan akal cukup encer, kemampuan berbicara cukup baik, dan memiliki satu keahlian tertentu yang bisa memukau mereka.

Social climber juga tidak selalu bermakna buruk, karena nyatanya banyak keluarga-keluarga dari kerajaan Inggris yang menikahi pemanjat status sosial ini, dan malah bersama-sama mereka lebih sering menyantuni orang tak mampu (mungkin teringat kehidupannya dulu, hiks!).

Jadi ingat, dulu pernah bertanya pada ibu saya, kalau saya meminta informasi pada seorang teman, adakah lowongan pekerjaan di tempatnya, apakah saya termasuk seorang social climber? Ibu saya menjawab,

“Tidak. Kamu adalah social climber bila kamu meminta rekomendasi atas namanya untuk memudahkan jalanmu mendapatkan pekerjaan itu.”

Dalam analogi paling sederhana, jika dibandingkan dengan definisi matre yang sering dikaitkan dengan social climber:

Seumpama saya pedagang, maka saya matre/mata duitan jika memaksa kenalan saya yang merupakan orang berada dan cukup harta, untuk membeli barang dagangan saya dengan berbagai cara manis yang menipu sedemikian rupa.

Dan saya adalah seorang social climber apabila berkenalan dengan seorang saudagar, kemudian meminta rujukannya untuk nama-nama orang kaya yang bersedia membeli barang saya. Saya adalah seorang social climber, jika saya menerima modal yang dia tawarkan untuk melancarkan usaha, karena dia percaya, ada potensi dalam diri saya. Potensi untuk bisa berguna baginya suatu saat nanti.

***

Bagaimana, anda mau mencoba menjadi seorang social climber? Jangan takut cemooh, siapa tahu anda-lah Bonaparte berikutnya!

###

Jakarta, 18 Juli 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s