RIP Kipas

Pagi tadi, saya kembali ke kota ini, setelah mengasing tiga minggu lamanya. Ibukota tidak terlalu ramah, hari masih baru dimulai, tapi matahari sudah beranjak tinggi, dan panas. Disambut suasana jalan yang khas, saya menuju pulang.

Saya tiba di rumah singgah, tempat senyaman rumah yang saya tinggali empat bulan terakhir. Beramah tamah sesaat, saya naik ke lantai dua menuju kamar. Mata sudah berat, badan letih, hasil tak tidur selama enam jam perjalanan kereta api.

Dengan segudang niat untuk pulas, saya berbaring di tempat tidur. Sampai lima menit kemudian saya sadari, kipas angin yang setia menempel di dinding kamar sedang tidak berputar. Saya bangkit hendak menyalakan, sia-sia. Ah, sial! Hari panas, terpaksa tidur tanpa kipas. Apa boleh buat, kipas itu memang sudah berulah sebelum saya pergi tiga minggu lalu. Saya akhirnya menyerah dan lelap menahan gerah.

Beberapa jam kemudian saya terbangun, kepala saya pusing, tubuh penuh peluh. Hawa panas di luar semakin menggila. Saya tidak tahan panas, jadi pusing karenanya. Si kipas angin masih tak juga menyala, hingga saya mandi, makan, dan tidur lagi sampai malam.

Terbangun kedua kalinya dengan alasan yang sama, membuat saya memaksa Saby, si empu kamar asli, untuk bekerja bakti. Mungkin mesin kipas tertutup debu hingga tak bisa beroperasi. Saby mengiyakan.

Sembari membersihkan, Saby bercerita bahwa kipas angin itu masih menyala malam tadi, dan dia terbangun pagi hari mendapati kipas sudah berhenti berputar.

Kami selesai membersihkan pukul sembilan malam. Dengan baju yang terkontaminasi debu, saya pasang kembali kipas (bukan cicak) di dinding, pada tempatnya. Dengan harap-harap cemas kami menyambungkannya ke listrik.

1..
5..
10..
20..

Kipas tidak juga berputar. Kami berdua terduduk sedih. Bercanda kami berkisah tentang kipas angin yang memang sudah terlihat sekarat sejak sebulan lalu itu. Tiba-tiba saja ada rasa kehilangan menyusup masuk rongga dada. Seperti menyaksikan kepergian seorang kawan, rasanya.

Terbayang bunyi “grek.. grek..” tengah malam. Suara angin yang seperti bunyi siul samar. Ada pula saat Jakarta membunuh perlahan dengan panas, kipas dipaksa mendinginkan dengan angin ala kadarnya. Baling-baling yang kadang berputar pelan, dan tiba-tiba kembali kencang dengan sendirinya. Kesetiaan kipas yang tidak pernah mengeluh meski dipaksa bekerja siang dan malam.

Saya dan Saby dirundung duka. Membersihkan kipas jadi seperti ritual memandikan jenazah. Ada perasaan bersalah, karena kematiannya disebabkan oleh kelalaian kami.

Saya dan Saby akhirnya memutuskan membiarkan kipas angin itu menggantung di dinding untuk sementara. Meski tahu sia-sia, kami tetap berharap, malam nanti kipas tersebut bisa berputar kembali. Kami menipu diri.

Meskipun ini terdengar konyol, tapi sepertinya, kipas menunggu saya dan Saby (yang baru akan berlibur), lengkap berada di rumah dan mengisi kamar berdua. Aneh rasanya bagi saya yang tidak percaya adanya kebetulan, bahwa sepagi itu saya menginjakkan kaki di Jakarta, sepagi itu pula kipas memutuskan pergi, dan mati.

***

Hujan di minggu terakhir Juni malam ini, anggaplah untuk kamu. Selamat jalan, Kipas!

***

[Jakarta, 28 Juni 2011]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s