Babi Nggak Pakai Ngepet

Pada suatu malam jumat, dini hari tepatnya, di sebuah perkampungan kecil. Penduduk dihebohkan dengan penangkapan seekor babi yang menyelinap masuk ke dalam rumah warga. Babi tersebut diperkirakan adalah manusia yang mendalami ilmu hitam dan berubah menjadi babi ngepet untuk mencuri uang para tetangga.

Warga menjadi berang. Seorang yang dituakan di kampung tersebut berkata, jika benar babi tersebut adalah jelmaan, maka ada orang yang membantunya. Dia menjelaskan, orang yang satu lagi itu bertugas menjaga pelita agar tak padam. Karena jika padam, si babi ngepet akan mati dalam wujud babi. Orang tua tersebut memberi saran untuk menggeledah satu per satu rumah di seluruh kampung. Maka digeledah lah satu per satu rumah, tapi tak ditemukan apa pun yang mencurigakan. Karena semua rumah warga memang memakai pelita, sebab listrik di atas jam dua belas malam sudah harus dimatikan, peraturan pemerintah desa begitu, katanya untuk menghemat energi.

Seorang anak muda yang cerdik dan tengah dilanda rasa lapar, sebut saja Tarjo, mengusulkan agar babi tersebut di bakar saja agar tersiksa, sebagai ganjaran perbuatannya. Warga yang sudah kehabisan ide, segera menyetujui usulan Tarjo. Maka dipersiapkanlah bumbu kecap, kayu bakar dan peralatan panggang. Dengan cepat si babi disembelih dan dipotong-potong menjadi beberapa bagian. Kemudian babi tersebut dibakar, dan setelahnya dinikmati beramai-ramai. Dagingnya dibagikan kepada seluruh warga. Arak-arak mulai dikelurkan, seluruh kampung larut dalam pesta babi bakar dan melupakan embel-embel ngepet di belakangnya.

Menjelang pagi, warga yang kekenyangan bergantian melangkah sempoyongan menuju rumah masin-masing. Akibat kekenyangan dan minum arak, mereka tak sabar untuk bertemu kasur dan tidur. Si pemuda cerdik dan sekarang sudah kenyang, Tarjo yang tak punya rumah dan menumpang tidur di pos kamling pun dengan cepat kembali ke rumah kotak kecilnya, bersiap untuk tidur. Dalam mata memejam dia menggumam tentang tabiat manusia yang dia paham sekali,

“Dah, habis perkara. Ribut-ribut anggar emosi. Perut dah isi, mana peduli apa-apa lagi. “

Jogja, 14 Juni 2011

One thought on “Babi Nggak Pakai Ngepet”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s