Ode

Ibu, biarkan aku mencari rumah.

Tempat kuletakkan penat yang menggantungi pundakku,

melepaskan pegal yang menghuni sendi-sendi.

Beristirahat sebelum dijemput mati.

 

Ibu, bakarkan kentang untukku sekali lagi.

Lelehkan keju di perapian,

dan biarkan aroma keduanya memenuhi ruangan.

Membangkitkan rasa lapar dan liur yang membasahi mulut.

Hidangkan ke hadapanku saat masih hangat bersama setangkup roti tawar dari gandum pilihan.

Agar tenagaku terisi, sebelum tergesa-gesa pergi.

 

Biarkan kenangan tentang lorong-lorong berselimut tawa itu menetap dalam kepala.

Ketika akhirnya dinding-dinding putih berdiam dalam muram,

sepi tak berteman.

Aku harus bergegas menemukan rumah.

Yang akan tercium di dalamnya, aroma kentang bakar dari tungku milikku.

Yang di dalamnya berlarian bocah-bocahku bersama gema tawa mereka.

 

Kemudian tak tahu kapan,

kita akan bercerita lagi di teras lantai dua tempat kita biasa duduk menghirup aroma hujan dengan secangkir teh di masing-masing tangan.

Aku akan menguatkanmu dengan pelukan, dan kau balas melalui belaian,

ketika kita berbicara tentang kehilangan.

 

Ibu, biarkan aku lepas meretas batas.

Meski tak berakhir dengan yang kau selalu mau, aku pasti,

temukan rumahku.

Tempat bahagia dan susah menari Tap di atas meja makanku, dengan sepatuku.

Dan aku akan tenang menunggu penghabisan singgah membawaku lalu entah kemana.

 

 

 

Jakarta, 30 Mei 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s