Mitos Sang Adil

“Saudara Tuhan… Jadi benar, anda mengakui bahwa anda berada di lokasi, ketika Galuh sedang dalam keadaan sekarat?” Pengacara itu berjalan pelan mondar-mandir di depan saksi.

“Saya sampai di tempat kejadian tepat ketika Galuh sedang dalam keadaan sekarat,” jawab saksi tersebut.

“Berarti Galuh saat itu masih hidup?” tanya si pengacara lagi.

“Saya mendengarnya merintih dengan mata terbuka, ya, saya rasa dia masih hidup,” jawab sang saksi dengan tenang.

“Dan reaksi anda selanjutnya bukan memanggil paramedik untuk memberikan pertolongan kepada Galuh agar dia selamat, tapi malah berdiam diri?”

“Ya.”

“Anda adalah Tuhan. Anda tentu bisa menyembuhkannya dengn seketika, bukan?”

“Ya.”

“Anda tahu bahwa anda bisa saja dihukum karena melakukan hal tersebut?” Pengacara itu bertanya sambil memicingkan mata menatap si saksi.

“Mungkin. Saya tidak berpikir sejauh itu.”

“Apa yang anda pikirkan?”

“Saya Tuhan. Seharusnya adil.” Sang saksi menerawang jauh ke samping, seolah matanya dapat melihat menembus dinding tebal bernuansa alami dengan warna coklat itu.

“Dan memberikan kematian pada Galuh adalah keadilan?” Si pengacara kembali coba memastikan.

Tuhan mengaihkan pandangannya dan menjawab sambil menatap lekat si pengacara, “ya.”

Karina duduk diam di kursi terdakwa. Melihat Tuhan bersaksi untuknya. Ingatan Karina melayang pada kejadian tiga hari yang lalu.

***

Galuh untuk pertama kali memukul adik tersayangnya, yang dicintainya itu. Beberapa jam sesudah Karina secara tak sengaja melihat Galuh bersetubuh dengan ibu kandung mereka. Karina terkejut, sakit hati, kecewa.

“Kupikir kamu bilang kamu cuma mencintai satu perempuan.” Karina akhirnya membuka pembicaraan dengan kakaknya di kamar depan ketika sang ibu pergi entah kemana.

“Karina, ini mama. Mama sedang butuh kasih sayang laki-laki. Papa udah lama mati. Kamu lebih rela lihat mama masturbasi? Lagipula, kemarin malam kan kamu sudah dapat giliran, jangan cemburu dong. Mama kan jarang-jarang,” Galuh menjelaskan santai.

“Jarang?! Maksud kamu sebelum ini…” Karina tidak meneruskan kalimatnya.

“Karina, kakak sayang kamu.” Galuh mencoba merangkul adiknya.

Dan semua terjadi begitu cepat. Sebuah tamparan Karina di pipi Galuh memicu emosinya. Bogem berbalik mentah menyerang Karina berkali-kali. Sampai tangan perempuan berusia dua puluh dua itu menyambar gunting dia atas meja dan mengibaskannya asal-asalan ke arah Galuh. Mereka bergelut. Ketika Karina sadar, Galuh sudah di lantai bermandikan darah dengan mulut sedikit terbuka, menunggu nyawanya pergi melalui ujung lidah.

Karina berlari secepat mungkin keluar dari rumah. Karina jarang berdoa, tapi kali ini dia sungguh meminta semoga Tuhan cukup berbaik hati untuk membiarkan Galuh mati dalam penderitaannya. Lelaki pertama yang menidurinya di usia empat belas tahun. Lelaki yang memaksanya membunuh papanya sendiri dengan alasan sang papa tak akan merestui hubungan kakak-adik mereka yang mulai menyimpang menjadi sepasang kekasih. Lelaki yang baru diketahuinya telah meniduri ibu kandung mereka berkali-kali banyaknya. Karina meminta kepada Tuhan untuk memberikan keadilan sekali ini saja. Memberinya kesempatan untuk memulai hidupnya sekali lagi. Lepas dari sini.

***

Tuhan adalah hakimnya, sang saksi, pula si pengacara. Karina terbebas dari hukuman. Ibu bahkan dihapuskan dari dunia, dianggap tak ada. Karina bebas melenggang tanpa beban kemana dia suka. Memulai hidupnya dari semula. Karina percaya, Tuhan menyayanginya. Meski dia seorang pembunuh yang telah pula berkali-kali berzinah dengan saudara sedarah. Tuhan sayang Karina.

***

1 April 2008, seorang perempuan ditemukan tergeletak tak bernyawa dalam sebuah gerbong kereta api bekas. Perempuan yang diidentifikasi sebagai Karina Hesha, seorang buronan polisi selama dua tahun terakhir ini, menderita penyakit genital herpes yang mengakibatkan rasa gatal dan telah mengalami infeksi yang cukup parah. Disebutkan oleh tim autopsi, penyebab kematiannya diperkirakan karena Karina menggaruk alat kelamin dengan gunting yang ditemukan di sampingnya. (-red)

***

Jakarta, 16 Mei 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s