Tentang Rabu Lain Waktu

Hari ini lucu. Seorang teman mengeluh karena jenuh. Seorang bapak tak sengaja bertemu di angkutan umum, mengeluhkan masalahnya. Belum lagi seorang ibu yang mengeluh tentang anak-anaknya. Seorang perempuan muda yang mengeluh tentang hidupnya. Lucu.

Saya berpikir, ingin bisa dengan mudah mengeluh. Eh, tapi jatuhnya malah menggerutu. Itu pun bukan tentang kejadian atau uneg-uneg pribadi. Seringnya cuma luapan emosi. Memaki.

Padahal harusnya saya punya banyak hal untuk dikeluhkan. Pengangguran. Hampir tak punya masa depan. Ketakutan akan kesalahan. Pilihan-pilihan.

Cara paling mudah menjadi orang paling bahagia adalah dengan menuruti Ibu, perempuan yang melahirkanmu. Cara paling menantang adalah dengan menuruti kata hatimu.

Saya memilih cara kedua. Setelah bertahun mencoba yang pertama, tapi tak pernah merasa tergenapi, meski bahagia. Dan benar, memang tidak mudah.

Melompat keluar dari zona nyaman. Terjun langsung ke arena pertempuran. Kejar mimpi. Mengejar mimpi. Rasanya seperti berlarian ke segala arah, tapi semua pintu tertutup rapat untuk saya.

“Maybe the reason why, all the doors are closed, so you can open one that leads you to the perfect road.”

Dan Katy Perry bersenandung di telinga. Saya mendengarkan baik-baik satu baris lirik. Saya tersenyum.

Tuhan bekerja dengan cara paling misterius dan indah. Baru saja Dia memberi jawaban sebuah pertanyaan saya. Ah, dasar pelawak nomor satu!

Kembali pada persoalan mengeluh. Saya akhirnya berhenti mencoba. Mungkin memang tidak berbakat curhat dari sananya.

Lagipula, 22 tahun hidup dan bernafas, rasanya cukup mengajarkan bahwa setiap pilihan membawa konsekuensinya masing-masing. Saya tidak berhak mengeluh, apalagi menyesal. Tak punya alasan, lebih tepatnya. Karena sejak dulu hingga kini, semua yang terjadi berakar dari pilihan yang saya anggap paling benar.

Seperti kata The Weepies dalam lagu Can’t Go Back Now,

“Cause in the end the only steps that matter are the ones you take all by yourself.”

Maka saya percaya, mengeluh hanya berarti menyalahkan diri sendiri atas apa yang telah terjadi. Mengeluh hanya berarti membenarkan kebodohan diri sendiri karena telah salah memilih. Mengeluh hanya berarti merendahkan diri sendiri karena tak siap menanggung konsekuensi. Dan, hey! Mengapa begitu keras mengutuk diri?

Jakarta, 27 April 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s