Tuhan adalah Saudagar Kaya dan Saya Manusia Purba

Saya sering bertanya-tanya sendiri dalam hati. Dari tahun ke tahun saya hidup dan bernafas, semakin sering saya mengalami ini. Saya sering mengandai-andai kalau hidup itu serupa dengan jual-beli.

Mendapat pacar dan kehilangan teman, bukan kejadian langka yang susah ditemukan. Menikah, memiliki anak dan beranjak tua, lalu kehilangan Ibu atau Ayah, semakin membenarkan teori tentang menemukan kebahagiaan, dan kehilangan sumber kebahagiaan lainnya.

Jual-beli hidup mungkin masih menggunakan metode purba. Sistem barter yang sebenarnya tidak setimpal, hanya sekedar memenuhi kebutuhan. Seperti menukar kapak yang dibuat berhari-hari, untuk satu bagian tubuh babi hutan. Tidak setimpal, yang penting masalah hari ini terpecahkan, bahan untuk makan sudah ada, setidaknya sampai beberapa hari ke depan.

Saya sering berfikir, mungkin hidup pun seperti itu. Mungkin Tuhan bukan tidak memberikan yang kita mau, mungkin Dia bukan memberikan yang kita butuh. Mungkin sebenarnya Dia lebih pemurah dari yang kita sangka. Mungkin saja dia memberi yang kita butuh, dan tanpa sadar sebenarnya kita inginkan.

Saya pernah bertanya kepada seorang teman, apa yang kamu mau. Dia bilang dia mau bahu. Untuk bersandar lima menit saja setidaknya. Saya kembali bertanya, bahu seperti apa yang dia maksud. Dia menjawab, bahu yang tidak perlu lebar atau kuat, yang penting cukup hangat dan menenangkan. Saya kembali bertanya, ada berapa orang disana yang sedang menghabiskan waktu dengannya. Dia bilang ada banyak, tetapi tidak sesuai dengan yang dia mau. Yang dia mau adalah bahu seseorang yang tepat. “Seseorang” yang dia sendiri belum yakin berwujud seperti apa. “Seseorang” yang katanya bisa mengusir sepi hanya dengan sebuah senyum kecil. Mungkin begitu, Tuhan tidak memberinya apapun karena dia tidak benar-benar tahu apa yang dia mau.

Saya pernah sangat menginginkan sebuah sepatu. Sebuah sneakers mahal yang memang bagus dan sangat menggoda. Saya punya uangnya, saya bisa beli saat itu juga, tapi tiba-tiba jaringan internet terputus, setengah jam kemudian saya online, sepatu yang hanya ada dua macam itu sudah resmi terjual. Saya marah, awalnya saya benar-benar kesal. Tapi kemudian saya berfikir ulang, mungkin ini, bukan yang sebenarnya saya mau. Saya mencoba menelaah lebih jauh, untuk apa nantinya sepatu itu akan saya gunakan. Sepatu semahal dan sebagus itu, tentu bukan untuk dipakai setiap hari. Untuk acara tertentu, acara seperti apa? Toh saya tetap lebih senang memakai sepatu boot coklat kesayangan saya.

Benar, mungkin sebenarnya saya tidak sungguh-sungguh menginginkannya. Nafsu, bukan selalu mau. Ada perbedaan signifikan yang hanya bisa dirasakan tanpa bisa dijelaskan, antara hasrat dan keinginan. Terlepas dari permasalahan butuh atau tidaknya, mungkin yang saya mau cuma memiliki, tanpa melewati proses pemikiran rasional terlebih dulu.

Tiba-tiba saja keesokan harinya, seorang teman menelepon mengingatkan saya membeli kemeja berwarna biru, untuk sebuah acara penting. Detik itu saya tertawa, ternyata benar, Tuhan memang lebih tahu tentang segalanya. Itu yang sebenarnya lebih saya butuhkan, dan tanpa saya sadari, yang saya mau adalah tampil dengan pakaian terbaik untuk acara penting tersebut.

Jadi itu pun sama dengan sistem barter. Ketika si manusia purba hendak menukar kendi untuk beberapa potong daging babi, sang pedagang malah menawarkan ikan dengan beberapa macam sayuran. Barter yang lebih banyak tapi seringkali terlewat dari pandangan. Mungkin begitu.

Atau pernahkah kita kehilangan teman? Kerabat, bahkan keluarga, yang lebih dulu menyudahi hidupnya? Saya pernah. Masih saya ingat dengan jelas bagaimana saya menghujat Tuhan. Betapa teganya Dia mengambil satu-satunya orang yang paling mengerti saya, dan satu-satunya sahabat yang saya punya. Tuhan diam tidak bergeming, lihat betapa hebatnya Dia menerima semua tumpahan amarah saya. Beberapa tahun sesudahnya saya malah mensyukuri hal tersebut. Bagaimana kehilangan seorang sahabat, digantikan oleh beberapa teman baik.

Ya, paket sifat yang tadinya hanya tersedia di satu badan, dipecahNya kedalam beberapa manusia. Dan manusia-manusia hebat itu sekarang berada di dekat saya, membuktikan eksistensinya dengan selalu ada kapanpun saya butuh. Tuhan tahu, saya sebenarnya paling tidak mau bergantung pada siapapun. Tuhan tahu sahabat itu sudah menjadi semacam candu untuk saya, disudahinya dengan cara yang paling sulit saya terima, untuk kemudian digantinya melebihi yang sanggup saya mimpikan.

Tuhan memang pemurah. Dia adalah saudagar kaya, yang menawarkan saya sepasang sepatu ketika saya menginginkan sebuah tas, karena dia melihat saya datang ke toko-Nya dengan kaki telanjang.

Jadi mungkin begitu, pikir saya. Mungkin hidup ini hanya semacam jual beli, dan Tuhan adalah si saudagar yang murah hati. Setidaknya, begitu yang saya simpulkan selama 21 tahun saya bernafas. Jadi setakut apapun saya ketika kehilangan harta, atau manusia yang paling saya sayangi, saya mencoba untuk selalu percaya, nanti, pasti Tuhan ganti. Dengan sesuatu yang lebih saya butuh, dengan sesuatu, yang sebenarnya tanpa saya sadari, adalah yang paling saya idam-idamkan.

***

Medan, 7 Juni 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s