Pada Suatu Rabu

Sore ini, di sebuah terminal besar ibukota. Pada sebuah sudut aku duduk menikmati sebotol teh dingin kemasan. Beberapa bus bergantian melintas di depanku, bukan yang kutunggu. Aku masih diam, sebuah buku dan pulpen dalam genggaman kali ini berganti menemani.

Seorang ibu di sampingku melihat jam tangannya berkali-kali. Pakaiannya sopan dan tertutup dari kepala hingga batas mata kaki. Angin yang cukup kencang mengibas-ngibaskan kerudungnya kesana kemari, si ibu melipat tangan di depan dada.

Pria bertampang seram mendekat ke arahku, tangannya menggandeng tangan seorang lelaki buta yang mengantongi tongkatnya. Berdua mereka berhenti tepat di depanku. Pria bertampang seram lalu meninggalkan lelaki buta di sana, setelah membisikkan sesuatu ke telinganya, memintanya menunggu.

Pedangan asongan mengajak si lelaki buta berbicara, bertanya hendak kemana, lalu memberitahu bus yang akan membawanya ke tempat dituju. Lelaki buta mengucap terimakasih. Dia bergerak mundur selangkah, hampir menabrakku yang duduk diam di atas sebuah batu pembatas jalan. Kudekati dan menarik tangannya, mengajak duduk di sebelah, dia mengucap terimakasih. Aku kembali pada sebuah buku catatan dan pulpen di genggaman.

Sebuah bus kembali melaju di depanku. Pedagang asongan berteriak tertahan, menarik cepat tangan si lelaki buta, mengajaknya setengah berlari mengejar. Lelaki buta dibantu naik ke atas bus perlahan, dibantu sebuah tangan dari dalam bus, yang tak terlihat sosok lengkapnya.

Setengah jam menunggu tak membawa hasil, langit sudah gelap, hujan mungkin sebentar lagi turun dengan marah. Aku berjalan ke aras halte Trans Jakarta. Melewati sepasang muda-mudi yang duduk menikmati sepiring batagor berdua, mengganjal perut saat hari menjelang malam.

Antrian manusia yang padat menyambutku. Beberapa menerobos seperti tak tahu etika, beberapa menunggu dengan sabar hingga gilirannya. Bus melaju, bergantian, dengan jarak berdekatan, membawa entah berapa puluh, atau mungkin ratusan penumpang.

Pada halte berikutnya, seorang perempuan hamil masuk, tak ada tempat kosong di deretan bangku. Beberapa manusia dengan wajah lelah dan tanpa gairah, termasuk aku, berdiri dengan cepat, hendak memberinya tempat. Perempuan hamil memilih tempat dekat pintu, bukan rejekiku untuk beramal sore itu. Perempuan hamil duduk sambil tersenyum sepanjang perjalanan.

Sebuah halte yang ramai disinggahi sebagai transit, antrian manusia pada dua jalur sepanjang lebih dari 100 meter. Aku menyerah. Pergi keluar dan memanggil tukang ojek untuk mengantarku ke tempat menutup Rabu.

Hari ini terlalu banyak mengantarkan cerita kehidupan. Tentang seorang ibu yang mungkin terlambat menyiapkan makan malam untuk suami dan anaknya. Tentang pria bertampang seram yang tak berhati sama dengan penampakannya. Tentang lelaki buta dan tangan-tangan yang bergantian membantu menggantikan tongkatnya. Tentang manusia-manusia yang merindukan rumahnya. Tentang hati yang masih hidup di dalam sosok-sosok manusia mati. Tentang perjuangan bahkan setelah matahari resmi turun dari tempatnya. Tentang hidup yang memaksa siapa saja berjuang tanpa kenal waktu, dan 24 jam tak lagi terasa lama. Tentang makna pulang yang lebih dari sekadar sebuah kata.

***

Pada Suatu Rabu, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s