Emansipasi dan Diskriminasi

Besok, 21 April, adalah hari yang ditetapkan sebagai Hari Kartini. Sebuah penghargaan terhadap salah satu pahlawan nasional, R.A. Kartini, si pejuang emansipasi kaum wanita pada masanya.

Ada kekaguman tersendiri saat mendengar cerita-cerita tentang perempuan kelahiran Jepara yang meninggal di usia 25 ini. Kisah-kisah perjuangannya dalam membela hak perempuan. Opini-opininya yang dicatatkan kedalam buku tahunan kemudian, penuh pemikiran kritis. Tentang hak-hak perempuan sebagai manusia yang terkungkung dalam adat Jawa, atau tentang hukum yang tak adil merata perlakuannya. Pula tentang agama dan dosa, serta penyimpangan yang dilakukan dengan mengatasnamakan Tuhan.

Tak sulit jatuh hati pada sosok R.A. Kartini. Tak ada alasan untuk tidak mengagumi apa yang dia perjuangkan. Hasilnya pun bisa dilihat hingga sekarang. Perempuan saat ini tak lagi berkendala menuntut ilmu setinggi yang mereka mau. Tak ada lagi stigma bahwa perempuan hanya berakhir di dapur, lalu untuk apa mengejar gelar. Meski di beberapa daerah Indonesia nyatanya, pemikiran macam ini belum hilang sepenuhnya. Tapi setidaknya telah banyak kemajuan yang kita nikmati sekarang, buah pemikiran Kartini.

Tapi di masa modern, hingga tahun 2011, nyatanya emansipasi wanita malah menjadi sebuah titik balik memasuki era diskriminasi laki-laki. Tidak percaya? Berikut beberapa bukti perlakuan sederhana yang terjadi di sekitar kita:

1. Gerbong perempuan pada kereta dalam kota. Mengapa tidak ada gerbong khusus laki-laki? Persepsi bahwa perempuan lebih rapuh atau lebih mudah lelah, sementara laki-laki cenderung kuat secara fisik sepertinya adalah sesuatu yang sulit diubah. Padahal jika mau dibahas lebih lanjut, persepsi ini mendiskreditkan kaum perempuan sendiri. Dan dalam hal ini, tentunya merugikan laki-laki.

2. Bapak rumah tangga. Berapa banyak lelaki yang anda kenal, tidak bekerja dan malah mengasuh anak di rumah, sementara sang istri di luar mencari nafkah? Apakah orang tersebut digunjingkan sebagai parasit, lelaki menumpang hidup saja? Atau malah anda salah satu yang berpikir begitu? Kenapa tak pernah ada yang menyebut perempuan sebagai parasit ketika dia mengasuh anak di rumah dan si lelaki banting tulang bekerja? Karena kewajiban lelaki lah untuk bekerja, begitu menurut agama. Agama yang mana? Agama yang mengatakan bahwa perempuan seyogyanya mengurus anak dan rumah saja itu tidak nyata. Tuhan dalam agama Islam, Kristen, Katolik, Bunda bahkan Hindu tak pernah berfirman macam itu. Tugas istri dalam agama Islam, setahu saya, hanya sesederhana berdandan untuk si lelaki, dan menyenang-nyenangkannya saja. Pelacur bagi suami. Keberatan? Maaf, saya tak menemukan kata lain berarti sama tapi lebih indah.

3. Kekerasan dalam hubungan/rumah tangga. Anda laki-laki, dan alhamdulillah, senang berganti pasangan? Berapa kali sudah dalam hidup anda pernah ditampar oleh perempuan? Anda perempuan? Senang bukan, memberi sebuah tamparan pedas di pipi lelaki yang menyakiti? Yang macam itu tak termasuk kekerasan. Tak patut diperkarakan. Tapi apabila seorang lelaki melayangkan tangannya sekali saja ke tubuh perempuan, bagian mana pun dengan agak kuat, maka masuklah sudah ke dalam pasal kekerasan yang menimbulkan cedera atau rasa sakit.

Sebenarnya masih banyak lagi diskriminasi terhadap laki-laki yang dilakukan oleh lembaga, maupun perorangan di Indonesia ini, tapi cukup lah saya jabarkan 3 saja. Selebihnya bisa dilihat jika kita mau membuka mata dan menjadi sedikit lebih peka.

***

Semoga pada saatnya nanti, jenis kelamin tak akan lagi menjadi garis pembatas dan semua manusia bisa mendapatkan hak yang sama dalam setiap aspek kehidupannya.

Selamat Hari Kartini, perempuan dan laki-laki!

🙂

Jakarta, 20 April 2011

7 thoughts on “Emansipasi dan Diskriminasi”

  1. hari kartini bukannya 21 april ya..

    gw malah curiga, buah-buah pemikiran kritis kartini itu produk kolonial lewat politik etisnya van deventer. hehehe

    btw iya, yg poin nomer satu, gw setuju banget

    1. ah iya bener, bic. thanks koreksinya🙂

      gw liat link yang lo share bic. tulisan lo ya? tapi gw belum baca, kompasiana gak bisa kebuka gak tau kenapa. udah baca note mba ary di fb? itu udah paling sederhana tapi ngena. “Menggugat Kartini”

  2. kartini tdk pernah memilih utk dilahirkan sebagai priyayi🙂

    paling tidak, kartini telah membalas kenikmatan hidup yg diperolehnya (kecukupan materi, pendidikan, akses ke cendekiawan2 belanda), dengan memberikan sumbangan berupa pemikiran kritis.

  3. ngomongin bagian yang ke dua, Nabi Muhammad SAW dengan Siti Khodijah, lihatlah siapa yang lebih kaya, siapa yang bekerja dengan sukses sebelum menikah?
    berarti Nabi Muhammad SAW memberikan kesempatan dan tidak membuat Khodijah menjadi istri yang harus berada di rumah saja, tetapi mereka saling melengkapi dan menghormati🙂

    setara itu utopis, menghilangkan perbedaan sama dengan pembantaian umat manusia secara tidak langsung. yang diperlukan seharusnya adalah saling pengertian dan saling melengkapi satu sama lain, antara laki2 dan perempuan, bukan menuntut adanya kesetaraan. -luce irigaray :je, tu, nous. pour une culture de la difference

  4. daeng: jadi priyayi juga bukan dosa kan, daeng🙂

    reka: sama dengan konsep adil, rek. adil bukan berarti sama rata, tapi sesuai pada porsinya. poin gw sederhana, jangan sampai emansipasi malah berbalik menjadi senjata bagi perempuan karena ingin diistimewakan.
    dalam islam, tugas suami adalah menafkahi lahir batin, mengurus rumah dan merawat anak. bagi yang mampu, hendaknya menyewa budak. kalau gak mampu, mengerjakannya sendiri. jadi cuma bentukan kolonial aja yang bilang tugas istri itu mengurus rumah dan anak, gak ada urusannya dengan dalil agama.

  5. iya, berarti saling melengkapi dan mengerti satu sama lain, baik antar-gender maupun sesama gender dan itu mungkin pada akhirnya lebih adil dibandingkan dengan konsep “setara” mengenai hak (yang selama ini gw tau). iya bukan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s