YouTube

Tahunan lalu, saat YouTube adalah sebuah situs bagi penggemar musik yang mencari video artis idolanya. Tahunan lalu, saat YouTube adalah sesederhana tempat berbagi koleksi video bajakan dari MTV. Tahunan lalu, saat YouTube lebih banyak diisi video berkualitas buram, namun cukup memuaskan rasa ingin tahu dan penasaran. Tahunan lalu, saat YouTube masih perawan dan belum dikomoditikan.

Mungkin sejak Justin Bieber ditemukan Usher melalui YouTube. Mungkin pula sejak MoyMoy Palaboy dari Filipina mendadak tenar karena video parodinya meng-cover beberapa lagu. Atau mungkin sejak Google resmi membeli situs berbagi video tersebut tahun 2008.

YouTube kini, dikuasai label sebagai situs promosi para artisnya. YouTube kini, penuh video bodoh oleh orang-orang yang berharap memperoleh popularitas. instan YouTube kini, bukan lagi tentang kesenangan berbagi. YouTube kini, adalah sebuah situs komersil, sebuah lahan bagi para pebisnis untuk mengkalkulasi untung dan rugi.

***

Mari tarik mundur sejenak, ke masa-masa dimana video yang diunggah ke YouTube didominasi oleh para pengguna dan anggotanya, bukan perusahaan-perusahaan label musik. Para pengguna dan anggota situs ini biasa berinteraksi melalui kotak komentar, memuji artis atau film yang video-nya diunggah secara suka rela oleh orang baik entah siapa agar penggemar lain bisa ikut menikmatinya.

Saat ini kolom komentar YouTube lebih bajak diisi hujatan dan makian terhadap orang yang ada di dalam video tersebut. Entah apa esensinya, padahal kalau tak suka tak harus ditonton juga.

Mari mundur ke belakang lagi, saat orang-orang beruntung yang kini terkenal, pertama kali ditemukan dalam video konyol yang diniatkan sebagai dokumentasi. Mereka yang akhirnya memperoleh kesempatan, sebenar-benarnyalah memiliki bakat atau keunikan tersendiri, tak sembarang modal bernarsis ria di depan kamera.

Saat ini, terutama di Indonesia, setelah Jojo dan Shinta, hadir lagi Briptu Norman dengan video lypsinc-nya, lagu india. MoyMoy Palaboy telah jauh memulai sebelum mereka, video parodi yang lebih lucu dan menghibur. Tapi tak lantas menjadi penyanyi dadakan. Sungguh tidak relevan. Dari apa yang diberitakan, kedua lelaki Filipina tersebut akhirnya menjadi presenter di beberapa acara dan pelawak, tentunya. Masih hingga sekarang, aktif meng-unggah video nya secara berkala ke situs yang telah menaikkan nama mereka.

Mari terus mundur lebih jauh, saat video amatir tentang suatu kejadian, dibagi melalui YouTube. Para pengguna mendapat informasi tambahan dari sekadar apa yang diberitakan oleh media televisi maupun cetak. Entah itu tentang bencana, kerusuhan, dan lain lain.

Saat ini, bahkan media televisi menjadikan YouTube sebagai salah satu sumber informasi. Berapa banyak, lagi-lagi, di Indonesia terutama, tayangan berita yang menyertakan video dari YouTube. Tak hanya Indonesia sebenarnya. Bahkan Al-Jazeera, sebelum membuat channel-nya sendiri di situs tersebut, telah lebih dulu mengambil video-video dari YouTube, secara cuma-cuma. Cukup menyertakan keterangan sumber gambar. Bahkan si peng-unggah awal, namanya tak pernah terdengar.

Mari lebih jauh kita mundur ke pangkal, ketika YouTube lebih mirip situs pembajak karya, mungkin pengaruh pendirinya, Steve Chen, warga negara China yang memang terkenal dengan angka fantastis dalam kriminal pembajakan karya. Lagu apa pun, video apa pun, musik atau pun film, bisa ditonton secara bebas tanpa aturan dan konsekuensi terkena pajak royalti dan undang-undang hak cipta beserta segala tetek bengeknya.

Saat ini, ada berapa banyak video yang telah susah payah di-unggah, akhirnya di-block secara sadis oleh management YouTube karena melanggar hak cipta. Karena label tak mengizinkan film atau video tersebut tayang selain dari channelnya. Padahal untuk meng-unggah satu video singkat saja butuh waktu yang begitu lama, bagaimana rasanya ketika tahu beberapa jam terbuang percuma?

***

In the end, it’ll be just as simple as, how we know that all the good things would come to an end. Technologies will bring us some better stuffs. But the businessman could never stop being so suck.

Goodbye, YouTube!

***

Jakarta, 13 April 2011

Mirip situs pembajak karya, mungkin pengaruh oleh pendirinya, Steve Chen, warga negara China yang memang terkenal dengan angka fantastis dalam kriminal pembajakan hak cipta.

5 thoughts on “YouTube”

  1. dee, kamu udah seperti developer dunia maya, bikin rumah dimana-mana..🙂

    apa kabar dee, apa ibu kota menyusahkanmu ?
    lama tak sua dan saling sapa..😦

  2. kesal di tumblr gak bisa komen, daeng. kalau wordpress malah bisa dari hp.😀

    iya ibukota bikin susah! hahaha.. rindu fiksi dan cengkrama virtual. nantilah, sekarang mengurus mimpi di realita dulu.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s