Maaf

Kamu tahu, seperti mencari sesuatu sekian lama, lalu melupakannya dan memilih menganggap tidak ada. Kemudian kamu temukan, entah kapan begitu lama sesudahnya. Kamu menjadi aneh, kamu menjadi plin-plan. Hey, kamu sudah lupa! Kamu terbiasa dengan pola menganggap hal itu tidak ada. Kamu sudah setengah mati berusaha percaya bahwa yang kamu cari tidak akan pernah tertemukan.

Seperti saya ketika masih muda yang selalu meyakini, kata maaf sebetulnya tak perlu diucapkan. Tak perlu pula menunjukkan rasa bersalah. Saya mencari orang yang memiliki persepsi sama, mencari orang yang bisa mengerti betapa tak bermaknanya kata.

Tapi kemudian saya menyerah, ketika beranjak dewasa dan menemukan tak satu pun berpikiran serupa. Semua orang menuntut ucapan verbal, kalimat manis yang diucapkan sambil menatap bola mata. Sederhana. Saya menjadi ahli berpura-pura. Saya lupa. Lupa akan tujuan awal. Akhirnya saya menjadi percaya, bahwa yang benar adalah yang terbanyak dianut akal mayoritas. Maaf itu perlu diucapkan, itu sebabnya ada lebaran Idul Fitri.

Seperti saya ketika masih muda yang menganut teori, tak apa lama, asal tak henti berusaha. Bahkan Confucius pernah berkata,

“It doesn’t matter how slowly you go, as long as you do not stop.”

Tapi apa yang saya pelajari selama hidup, telah membuat saya begitu percaya, bahwa jika tak berlari, saya akan tertinggal jauh di belakang. Maka saya berlari. Terjatuh, kemudian kembali berlari. Terjatuh lagi dan berlari bahkan lebih kencang. Saya lupa, sebelum berlari saya pernah belajar merangkak, untuk kemudian berjalan.

Lalu saya bertemu kamu. Saya yang terbiasa dengan pola, kamu yang begitu keras kepala. Saya yang entah bagaimana menjadi begitu membosankan, terjebak dalam batasan-batasan awam. Kamu yang diam dan menunggu saya paham.

Kemarin saya menyadari, betapa energi yang kamu miliki, mungkin berlipat ganda dari apa yang saya punya. Saat saya sudah terengah-engah, kamu masih tenang mengatur nafasmu yang memang pendek. Mengingatkan saya pada cerita Kelinci dan Kura-kura, kamu berjalan pelan sekali, tapi pasti.

Dan tadi, sebuah kesadaran kembali dianugerahkan Tuhan kepada saya, saat mengucap maaf berkali-kali. Kamu lebih banyak diam dan tersenyum, menatap dengan pandangan aneh, seolah saya jarang mengucapkannya. Saya bertanya-tanya.

Malam tadi saya temukan jawabannya. Kamu telah lebih dulu memaafkan semua, bahkan sebelum saya bersusah payah mengumpulkan keberanian meminta.

***

Jakarta, 13 April 2011

*ketemu!šŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s