Saturday Night ala Suede

 

13007088622011138889

19 Maret 2011, Sabtu malam kemarin, Suede sukses menghibur penggemar setianya di Jakarta, Indonesia. Setelah delapan tahun yang lalu Suede datang tanpa Neil Codling si gitaris yang merangkap sebagai keyboardis, kali ini mereka kembali dengan formasi lengkap.

Dalam acara yang diselenggarakan oleh Blackberry dengan bantuan Ismaya Live ini, ada beberapa artis lain yang tampil, seperti 2PM, boyband asal Korea, juga penyanyi RnB Shontelle dan Taio Cruz. Melihat deretan nama tersebut, dengan mudah bisa ditebak bahwa malam itu, Jakarta  International Expo arena PRJ Kemayoran, ramai oleh remaja-remaja penggila boyband dan musik RnB. Sementara, fans Suede sendiri dengan mudah bisa dikenali dari cara berpakaian, dan juga usia yang sudah dewasa.

Suede, adalah sebuah band yang terbentuk sejak awal tahun ‘90-an. Nama Suede kemudian meroket setelah album Dog Man Star menduduki peringkat ketiga dalam UK Album Chart pada tahun 1994. Sejak itu banyak lagu dan album Suede yang tercatat menjadi lagu-lagu dengan peringkat tertinggi di beberapa negara. Namun kesuksesan itu berakhir pada tanggal 5 November 2003, dimana sang vokalis, Brett Anderson dengan tegas mengatakan tidak akan ada lagi rekaman di bawah nama Suede, untuk waktu yang tidak ditentukan. Pernyataan resmi bubarnya group band ini hanya selang beberapa bulan setelah Suede datang ke Indonesia untuk konser pertamanya, pada Januari 2003.

Saya tiba di Arena PRJ Kemayoran pukul delapan malam, tepat sesaat setelah 2PM selesai membawakan empat lagu sebagai opening act dalam acara ini. Pada jadwal yang tertera di rundown acara, Suede seharusnya tampil pukul 22.20, maka saya memutuskan untuk menunggu sambil mengisi perut. Awalnya saya berniat untuk mencari makanan di venue, tapi begitu melihat sebuah tempat makan di bagian dalam arena PRJ (tapi di luar pagar pembatas acara Live & Rockin ini) saya menyimpulkan di balik pagar sana tak ada yang menjual makanan. Karena berdasarkan pengalaman menyaksikan acara musik di tempat yang sama, kafe atau restoran di luar tempat terselenggaranya acara, biasanya ditutup untuk meningkatkan penjualan stand makanan.

Satu setengah jam kemudian, setelah penampilan Shontell dan Taio Cruz selesai, saya bersama seorang teman berjalan ke arah venue yang dibatasi oleh pagar tepat di tengah arena PRJ. Dalam perjalanan menuju ke pintu masuk, beberapa calo berusaha menghentikan langkah saya dengan menawari tiket masuk seharga seratus ribu rupiah.

SERATUS RIBU RUPIAH! Saya tersentak kaget. Mengingat ketika promosi acara ini berlangsung sejak dua bulan yang lalu, bagi yang ingin menonton harus membeli satu buah Blackberry keluaran terbaru untuk bisa mendapatkan dua tiket acara. Saat itu saya terbayang wajah beberapa kawan yang saya tahu adalah fans loyal dari Suede, namun berhalangan hadir karena terkendala membeli tiket seharga satu buah smart phone baru. Meski saya mendapatkan tiket secara gratis, mendapati kejadian itu, saya merasa kecewa terhadap Ismaya Live sebagai event organizer yang mengatur jalannya acara. Tak hanya itu, sesampainya di dalam, saya melihat ada sebuah stand makanan yang membangkitkan rasa sesal saya karena di tempat saya mengisi perut tadi, harganya sangat tidak normal. Saya menyesalkan tidak adanya sosialisasi penyelenggara acara tentang stand makanan ini.

Saat saya masuk ke dalam Hall A, dimana semua pengisi acara tampil, para gadis muda sudah bersiap-siap untuk pulang. Yang tinggal di dalam, mayoritas adalah orang-orang dengan kisaran usia dua puluh tahun ke atas. Kurang lebih selama sepuluh menit Fahrani dan Daniel, sebagai MC, menghabiskan waktu berinteraksi dengan para penonton sambil membagikan beberapa merchandise gratis. Setelahnya, lampu panggung dimatikan. Kemudian terlihat bayangan beberapa orang mengambil posisi di atas panggung.

Sebuah lagu langsung dimainkan tanpa aba-aba. This Hollywood Life dari album Dog Man Star, tidak salah dipilih sebagai lagu pembuka malam itu. Meski tak cukup ramai, tapi sebagian penonton langsung ikut bernyanyi bersama. Tanpa jeda dan basa-basi sama sekali, Suede langsung melantunkan lagu kedua, She.

Seperti tak kenal lelah, Suede berturut-turut memainkan lagu Trash, Filmstar, Animal Nitrate, dan We Are the Pigs. Brett Anderson yang telah menginjak usia 43 pun tetap tampil dengan sempurna. Berbalutkan kemeja tangan panjang dan jeans berwarna hitam, pentolan Suede itu berlari ke sana kemari menyapa penggemarnya di setiap sudut panggung. Badannya masih terlihat lincah dan begitu lentur meliuk-liukkan badan mengikuti alunan melodi lagu.

Saat adrenaline penonton tengah berada di puncak karena lagu-lagu berirama menghentak sebelumnya, Suede mencoba mendinginkan suasa dengan membawakan By The Sea, sebuah lagu balada dari album Coming Up. Penonton benar-benar hampir tak berhenti ikut bernyanyi sejak awal Suede menginjakkan kaki ke atas panggung. Dan sesudah lagu balada tersebut selesai, Brett Anderson akhirnya berhenti sebentar mengambil nafas sambil menyapa penggemarnya dengan ucapan, “terimakasih”.

Tak sampa beberapa menit waktu mereka beristirahat, Electricity membawa penonton kembali panas. The Drowners, sebuah lagu dari album self-titled mereka, membuat para penggemar setia Suede bernostalgia kembali ke awal ‘90an. Sayang, banyak yang tidak tahu lagu ini, terlihat dari jumlah penonton yang turut bernyanyi berkurang drastis, dan hanya diam menikmati. Hal yang sama terjadi ketika Killing of a Flashboy dari album Sci-fi Lullabies dimainkan, penonton sempat kehilangan antusiasmenya selama beberapa menit.

Menilik dari sejarah karir mereka, Suede memang sebuah band dengan jam terbang tinggi. Dengan lagu Can’t Get Enough, dari album Head Music, mereka berhasil menyihir penonton untuk kembali bergoyang mengikuti irama lagu. Tidak hanya Brett Anderson, personil Suede yang lain seperti pemain drum, Simon Gilbert dan pemain bas, Mat Osman pun seperti tak mengenal lelah menghibur penonton dengan beat menghentak.

Setelah lagu bertempo asik tersebut, Neil Codling, berpindah tempat mengambil posisi di belakang keyboard. Saya berteriak histeris karena sudah bisa menebak lagu apa yang akan dibawakan. Dan benar saja, irama awal Everything Will Flow membuat penonton berteriak penuh semangat. Brett Anderson bahkan beberapa kali mengarahkan mic kepada penonton yang bernyanyi tanpa henti mengikuti kata per kata lagu ini.

Suede pun membawakan beberapa lagu lawasnya, seperti So Young dan Metal Mickey yang membahana ke seluruh aula, diikuti dua lagu lain, The Wild Ones dan New Generation. Penonton yang memang banyak terdiri dari para penggemar setia Suede pun tak pelit apresiasi. Para penggemar ini tak segan-segan melompat, bernyanyi, dan bahkan berteriak histeris ketika sang vokalis meliukkan badannya di atas panggung atau melempar mic sebagai atraksi.

Suede kembali mengambil jeda, kali ini Brett maju ke depan panggung dan menunduk sedikit, berbicara kepada penonton.

“You’ve been our loyal fans. Thank you. Terimakasih. This one’s for you.”

Sang gitaris Richard Oakes, kemudian memainkan intro sebuah lagu yang disebut-sebut sebagai lagu terbaik dalam sejarah musik Suede, Beautiful Ones. Penonton yang memang sudah menunggu-nunggu lagu ini dimainkan, berteriak dan melompat antusias. Semua menyanyi dan membaur dalam musik yang dimainkan Suede dengan tempo lebih cepat dari versi aslinya. Selesai membawakan lagu tersebut dengan hampir sempurna, Suede pamit undur diri. Mereka menghilang ke belakang panggung. Sementara penonton yang tak rela konser berakhir begitu cepat, berteriak meminta encore.

“We want more! We want more!”

Setelah kurang lebih lima menit penonton berteriak, akhirnya sang drummer, Simon Gilbert kembali ke belakang drum-nya dengan sebatang rokok di mulut. Personil lain kemudian menyusul, disambut gegap penonton yang lega karena pertunjukan belum berakhir. Brett Anderson mendekat ke arah penonton kemudian berkata,

“this song is special, we haven’t played this since a long time.”

Dan intro pelan Lazy kembali membuat penonton berteriak histeris. Single dari album Coming Up ini memang cukup langka dimainkan dalam konser-konser Suede. Penonton kembali bernyanyi mengikuti Brett Anderson yang kemejanya telah terbuka separuh dan basah karena keringat.

“Now this is really our last song for tonight. It’s a special night. What night is it tonight?” Brett Anderson bertanya kepada penonton, yang dijawab dengan teriakan kompak,

“saturday night!”

Dan lagu Saturday Night benar-benar menjadi penutup konser Suede malam itu. Brett Anderson bahkan menunjukkan rasa terimakasihnya dengan turun ke bawah panggung, menyapa para penonton secara langsung sambil tetap bernyanyi. Dua kali pria yang sudah cukup tua namun tetap energik ini berjalan memutari mosh pit, menyalami penonton di sana, sebelum akhirnya kembali ke atas panggung dan mengakhiri lagu, sekaligus penampilan mereka Sabtu malam itu.

Terlepas dari sistem penyelenggaraan acara yang merugikan penonton atau kualitas sound system serta penataan panggung yang terlalu sederhana untuk standard artis internasional, penampilan Suede malam itu nyaris tanpa cela. Vokal Brett Anderson yang stabil meski terus bergoyang, permainan gitar, bas dan drum yang harmonis dari Richard Oakes, Mat Osman dan Simon Gilbert, serta alunan keyboard yang bersih dari Neil Codling benar-benar memukau penggemar setia yang rindu akan penampilan salah satu ikon Britpop ini.

* * *

Jakarta, 21 Maret 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s