Menulis Deskriptif Dalam Fiksi
Saya pernah belajar sedikit-sedikit tentang cara penulisan skenario. Lebih lanjutnya, saya belajar setiap detail cara membuat film. Tapi yang akan saya bagi disini adalah mengenai penulisan skenario, yang cara dan tahapannya bisa pula diterapkan dalam membuat fiksi yang detail dan konsisten. Baik dalam hal deskripsi maupun narasi.
Begini, dalam membuat skenario untuk sebuah film, biasanya ada semacam pembedahan karakter. Itu yang saya pelajari. Kalau mau dikerjakan secara detail, sebenarnya tak cukup satu lembar HVS untuk mendeskripsikan biodata satu karakter. Biodata yang biasa kita isi sehari-hari mungkin hanya berkisar di nama, jenis kelamin, tempat tanggal lahir, hal-hal yang disukai, dan sebagainya. Tapi dalam membuat sebuah detail karakter, haruslah lebih lengkap. Zodiak, golongan darah, karakter, kebiasaan, suku (yang nantinya menentukan logat berbicara), kemudian latar belakang pendidikan, dan data pelengkap lainnya.
Biodata ini nantinya akan memandu kita menentukan segala dialog dan pengadeganan untuk si karakter. Agar konsisten dan tidak menyimpang dari ide semula. Introvert-kah, atau extrovert-kah si karakter tadi? Orang yang berzodiak Leo tentu berbeda dengan orang yang lahir dibawah naungan Cancer. Orang yang besar di Jawa tentu berbeda perilaku dengan mereka yang hidup di Sumatera. Termasuk gaya berbicara. Hal-hal ini yang akan memperkuat karakter dalam penokohan.
Mengenai konflik, ada panduan tersendiri yang saya terapkan. Hal ini berkaitan erat dengan penokohan tadi. Begini, setelah memahami dan menentukan karakter secara mendetail, akan lebih mudah untuk kita menerka, masalah apa yang biasa timbul di sekitarnya. Misal, orang bertemperamen tinggi, tentu mempunyai kecenderungan lebih besar terlibat konflik yang mengarah ke kontak fisik. Lalu orang yang introvert, akan mempunyai kecenderungan menghadapi konflik di dalam dirinya sendiri. Dari sinilah kita bisa mulai menggambar, seperti apa konflik yang mungkin tercipta dari perilaku si tokoh tadi.
Dalam menulis skenario, kita diharuskan menggunakan bahasa adegan. Contoh :
“Dia menunggu pacarnya datang dengan gelisah.”
Maka kalimat yang benar untuk bahasa pengadeganannya adalah,
“Dia melihat jam di tangan kirinya 2 kali, lalu mengangkat kepala dan menoleh ke arah jalan. Sebentar-sebentar dia duduk, lalu berdiri lagi. Kakinya bergerak-gerak secara konstan. Keningnya berkerut, berkeringat.”
Begitu juga dengan setting. Si penulis skenario sudah harus bisa menggambarkan di dalam kepalanya, seperti apa dan bagaimana kondisi tempat yang menjadi lokasi. Karena si pembuat skenario adalah mata kamera. Sebagai contoh :
“Dia masuk dan menemukan rumah dalam keadaan berantakan.”
Seharusnya dijabarkan menjadi,
“Dia masuk melalui pintu depan dan tersandung TV yang telah jatuh di lantai. Menemukan sofa di ruang tamu dalam keadaan terbalik, meja di ruang tengah sudah pecah. Di lantai keramik terdapat guci yang hancur berkeping.”
Segala detail yang dijabarkan akan membantu kita untuk merasa bahwa cerita tersebut hidup dan nyata. Bila digarisi batas dan dilakukan sesuai dengan anjuran, tak akan terjadi seperti di sinetron-sinteron Indonesia yang kebanyakan tokohnya berekspresi dengan cara berlebih. Seperti marah yang selalu identik dengan melotot dan bibir bergerak-gerak setengah terbuka. Tangan mengepal dan kening berkerut. Tak selalu seperti itu. Sekali lagi, kembali kepada karakter si tokoh.
Bila setting telah ditetapkan sejak semula, tidak akan ada adegan aneh seperti pada salah satu film yang pernah saya tonton. Bagaimana bisa di dalam kamar mandi sang tokoh menemukan pisau dapur dan akhirnya menusuk si lawan main disana. Read more…
Iqra – Bacalah
Iqra – Banyak orang yang salah menafsirkan ayat pertama dalam Al-Quran ini. Saya tahu, kalimat pertama tadi mungkin baru saja membuat anda mengernyitkan kening. Ini bukan tentang saya yang tiba-tiba mendapat hidayah dan menulis sesuatu yang religius. Postingan ini juga bukan sesuatu yang menginspirasi seperti kalimat-kalimat basi Mario Teguh, saya tidak se-super dia, tentunya. Tulisan ini akan menjadi sebuah tulisan biasa tentang sebuah opini yang sederhana. Tulisan ini masih akan seperti tulisan-tulisan lain yang pernah saya ciptakan, begitu subyektif, dan penuh ke-aku-an.
Kembali pada permasalah Iqra, saya yakin hampir seluruh manusia, terutama yang beragama Islam, mengetahui arti kata Iqra itu sendiri. Bacalah, begitu pengertiannya. Tahu, tapi apakah kita benar-benar mengerti, paham terhadap makna di balik kata “bacalah” itu sendiri?
Perintah itu bukan semata tentang perintah untuk membaca Al-Quran atau kitab-kitab pemandu umat lainnya. Bukan semata-mata tentang tulisan yang dibaca dengan mata, dan dicerna dengan logika. Saya yakin, kata perintah tersebut menyimpan lebih banyak makna.
Saya membaca, tidak hanya apa yang tertulis dalam aksara. Saya membaca pertanda, saya membaca isyarat, saya membaca petunjuk yang disajikan melalui mata. Saya membaca dengan kepala, apa yang didengarkan oleh telinga. Saya membaca, apa arti dari setiap sentuhan yang disalurkan melalui organ perasa seperti kulit dan lidah. Saya membaca aroma-aroma yang disampaikan oleh hidung kepada akal. Saya membaca setiap kesalahan yang kemudian menjadi pembelajaran. Saya membaca pilihan-pilihan yang disajikan. Saya membaca setiap pertanyaan, untuk kemudian saya simpan, hingga saya temukan jawaban di tempat lain. Saya membaca semua yang disajikan semesta.
Saya yakin, saya tidak sendiri. Ada milyaran manusia lainnya yang juga turut membaca. Meski apa yang disajikan semesta dan isinya tidak akan pernah sama dari sudut pandang tiap pasang mata di dunia. Itu sebabnya, pengalaman yang sama akan menghasilkan pembelajaran yang berbeda bagi setiap individu. Karena kita membaca hal yang berbeda.
Saya bisa saja membaca tentang keegoisan seorang manusia dari sikapnya menolong orang lain yang membutuhkan. Saya membaca sebuah tindakan yang dia lakukan untuk menghindarkan dirinya dari perasaan bersalah, karena kemanusiaan menuntutnya untuk menolong. Sementara orang lain mungkin dengan mudah dapat membaca dari sudut yang lebih positif, seseorang yang menolong orang lain, melakukannya karena itulah tindakan yang paling tepat dilakukan bagi yang membutuhkan.
Saya bisa saja membaca bahwa kesalahan yang terjadi di masa lalu adalah batang-batang emas yang sangat berharga, dan dapat berguna sewaktu-waktu. Sementara di mata orang lain, kesalahan tersebut bisa saja hanya sebuah kebodohan yang patut dilupakan.
Saya bisa saja membaca bahwa urutan A akan dilanjutkan dengan kejadian B, yang kemudian diteruskan oleh C, D dan E. Namun dalam sudut pandang mata manusia lainnya, peristiwa linier bisa saja terlihat begitu klise dan memperkirakan bahwa setelah A, tak menutup kemungkinan akan diteruskan oleh C.
Ah, bicara apa saya ini?
Padahal saya hanya ingin bercerita mengenai sebuah pepatah entah dari mana yang samar-samar saya ingat berkata,
“Don’t read the lines, but read what’s between the lines.”
Saya tak percaya apa yang saya lihat dalam sekali sapu pandang saja. Saya terbiasa dengan didikan untuk membaca apa yang tersembunyi. Dalam perumpamaan kasar, saya lebih senang membaca kekurangan dan keburukan saja, karena kebaikan-kebaikan hanya untuk menghibur-hibur diri dengan penampakan yang indah.
Maka jika seseorang menjadi terlalu baik, saya cenderung merasa curiga. Pernah seorang berkata, bila begitu, sulit bagi saya untuk bahagia. Saya rasa dia salah. Karena nyatanya, mereka yang lebih gemar memandang keindahan akan lebih kecewa saat melihat keburukan-keburukan di baliknya. Berbeda dengan saya yang lebih senang melihat kekurangan, saya sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan-kemungkinan terburuk. Sementara yang baik tersebut, saya anggap sebuah bonus yang bila tiba akan membuat gembira, namun jika tak ada, tak saya harapkan juga.
Saya sudah melakukan itu sejak tahunan yang lalu. Namun saya sempat lupa, bahwa selain membaca, kita pun turut menulis cerita. Apa yang kita tulis, tentunya akan mempengaruhi kisah yang disajikan semesta. Saya menyadari itu beberapa tahun belakangan. Membaca ternyata tak cukup, jika tak disertai dengan tindakan, untuk mendukung kita sampai pada sebuah kesimpulan yang diinginkan. Jadi, bacalah, karena itulah bahan pertimbangan saat menulis nanti.
Oke. Sebelum semakin meracau, saya akan berhenti di sini.
[Jakarta, 11 February 2012.]
Long Road [Photo]
Film Pendek – Maya
***
MORO. A guy with multiple personalities disorder. When things got worse, he thought he should get rid of the other personalities and learn how to be a human. Just when he feels, meeting someone who can see who you really are, is a gift. He doesn’t realize he suffers more than one common disorder. None, is real, but the imagination in his head.
***
Video Klip – Something El (Adakah yang Salah)
***
An official video clip of Jakarta indie band’s song. Something El – Adakah yang Salah. The video is pretty much story-telling meaning of this song.
So if you’re a homosexual, having a relationship with someone who’s much older/younger, or in love with someone who has a different faith/religion with you, THIS IS YOUR SONG!
Check out @somethingel channel for more.
Director : Dee Dee Sabrina
Editor : Dedy Lekatompessy
Production : Disconnect Film
Serenade
***
There, quietly implore, my songs
Through the night to you
Down in the silent grove
Sweetheart, come to me!
Whispers rustling treetops lean
In the moonlight
The hostile traitor, listen!
Fear, lovely, don’t
Hear the nightingales?
Oh! they beseech thee
With the sweet sounds complaints
Beseech them for me
They understand the bosom tendons
Know you love pain
Stirring with silver tones
Each tender heart
Also liberate your chest
Darling, hear me!
Trembling, I’m waiting to meet you
Come, and make me glad
Untitled
Aku ingin berbaring sekali lagi, di sampingmu, tanpa air mata.
Bahkan ketika mati datang dan membawa hidup yang seolah tak akan selesai,
aku ingin sekali lagi mengenangmu dalam senyum yang lebar, tanpa air mata.
Pada suatu ketika kita akan lelah, bertanya-tanya.
Mencari apa yang manusia tidak akan pernah temui.
Semua hal telah dipecahkan, kecuali cara menjadi manusia.
Bila saat itu datang suatu ketika nanti,
aku ingin berbaring memelukmu sekali lagi.
Tanpa air mata.
Di tinggi malam kita sering bercerita,
tentang masa lalu yang dibawa pergi,
tentang masa depan yang tak siapa pun tahu pasti.
Lihat, bayi bayi baru saja dilahirkan untuk kemudian mencari jati diri.
Mereka akan terburu sepi sebelum menemukan tujuan tertinggi,
puncak evolusi manusia yang diakhiri dengan mati.
Pada waktunya nanti kita akan letih mencari.
Bertanya-tanya pada pagi, senja dan malam yang setia menjawab dalam diam.
Semua teori telah diciptakan, kecuali tentang awal penciptaan.
Bila hari terakhir datang menyerahkan diri,
aku ingin tertidur di sampingmu sekali lagi.
Tanpa air mata tentang duka duka tak terkisah, tanpa air mata tentang kisah gembira yang gagal tercipta.
Maka matilah kita, tanpa kekhawatiran akan hidup.
Karena keindahan sejati adalah kehidupan itu sendiri.
Maka matilah kita dalam kebanggaan tertinggi.
Karena hanya yang telah memulainya, yang bisa menemukan akhir dari semua.
***
Jakarta, 19 Desember 2011
Same Old Brand New
I’ve been wanting to hide
Inside the surface of the sea
Where sun sets in no time
And wash away every hurt
I’ve been wanting to run
Through the line of their shadows
Not under the light beneath the sky
With my arms wide open and thoughts of I can fly
I’ve been wanting to break free
From the barriers people made
Or the ties world create
In the sense of freedom I’ll get laid
I’ve been wanting all of those for so long
But to let go is another thing
I wrote goodbye in a song
For now you go within one blink
Then I start to sing
Somehow, that isn’t really a new thing
———-
Jakarta, November 16, 2011
Fenomena (Mencela) Boyband
Sebenernya sih gue gak mau terlalu ambil pusing dengan fenomena boyband yang lagi nge-trend. Gue juga bukan orang yang dengan senang hati ikut mengadopsi fenomena mencela boyband, yang bahkan lebih nge-trend saat ini. Tapi kok ya semakin kesini, orang-orang yang mencela boyband-boyband KW-an itu, malah semakin terlihat bodoh di mata gue?
SM*SH adalah contoh paling gampang. Objek celaan khalayak ramai. Tapi toh, gak kalah banyak yang nge-fans abis sama (tampang) mereka. Suara, ngepas banget. Kemampuan nge-dance? Cuma 2 di antara 7 yang bener-bener bisa “nari”. Tampang juga sebenernya biasa aja. Nangkring sejam dua jam di Senayan City deh, pasti nemu lebih banyak cowok-cowok yang jauh lebih “unyu” dari mereka.
Oke, mereka emang punya segudang alasan buat dicela. Read more…
Kutuk Kembar Anima
KUTUK KEMBAR ANIMA-ANIMUS
APA YANG AKAN TERJADI JIKA ADA DUA DIRIMU?
Awalnya ia hanya berupa sosok samar dalam mimpi-mimpi buruk Anima. Tak mengganggu, semata pengamat, hanya memantau segala dari kejauhan. Anima tak menggubrisnya, seperti biasa mimpinya sudah cukup dipenuhi berbagai monster dan mahluk fantasi, serta bayang-bayang gelap masa silam yang selalu mengganggu pulas tidurnya. Hingga pada satu malam dalam mimpinya, sosok itu terbayang cukup jelas, tak lagi semata sosok kelam di sudut mimpi dan sontak ia kaget ketika melihat paras sosok itu: bagai memandang cermin, ia adalah pantulan dirinya, walau ada yang berbeda. Bangun tubuhnya sepintas lebih tegap, dan tak ada sedikitpun aura kebaikan, seringai dan dingin sorot mata sosok itu begitu mencekam. Ketika bertatapan, ada yang begitu menakutkan, sorot mata sosok itu seakan penuh dendam. Dan Anima terbangun dari sebuah mimpi buruk dengan peluh yang membasahi tubuhnya, sebentuk teriak tercekat dalam dadanya, urung menggema.
Dan sejak malam itu, sosok sinis itu selalu hadir, menambah kepekatan mimpi-mimpi buruknya. Sosok itu bahkan mulai kurang ajar, dengan berani ia berperan sebagai komandan dan memerintahkan berbagai mahluk jadi-jadian itu untuk mengganggu Anima, bahkan melukainya. Ia akan menyeringai dan tertawa sinis sambil menggemakan kalimat perintah untuk memutar kembali tayangan masa silam yang meninggalkan luka dalam, seolah menyiksa Anima dengan sengaja. Tidur mulai menjadi suatu laku yang menakutkan bagi Anima, sosok kelam itu selalu menghantuinya. Bahkan saat terjaga, Anima mulai merasa tatapan sedingin es sosok itu seakan menghunjam punggungnya, atau dengan sudut kerlingnya seolah menangkap bayangan sosok itu berkelebat menjauh, tahu bahwa Anima bisa merasakan kehadirannya. Read more…

