Skip to content

Sesungguhnya

Perasaan paling jujur adalah yang tak disampaikan lewat kata,

melainkan oleh tatapan kosong yang terhenti di udara.

***

[Jakarta, 23 Juli 2014]

Kenapa Prabowo, Bukan Jokowi

Maraknya kicau-kicau tentang Calon Presiden di sosial media dan realita saat ini, membuat saya bertanya-tanya, seberapa paham sebenarnya masyarakat akan proses kecil pemilu yang merupakan bagian dari proses panjang pembentukan Negara Indonesia. Cukup banyak kampanye-kampanye negatif yang diarahkan kepada kedua calon. Saya sendiri, dengan terang-terangan menyatakan dukungan kepada Prabowo-Hatta. Tapi tak lantas menjelek-jelekkan Jokowi-JK.

Ada beberapa alasan kenapa saya memilih Prabowo untuk memimpin Indonesia selama minimal 5 tahun ke depan. Berikut satu alasan utamanya.

Dalam pengambilan keputusan apapun, saya lebih senang membayangkan kemungkinan dan resiko terburuk yang akan terjadi. Begitu juga dalam pemilihan Presiden kali ini. Siapapun yang terpilih, kemungkinan terbaiknya adalah Indonesia menjadi makmur dan lebih baik dari saat ini. Tapi saat kita berbicara tentang kemungkinan terburuk seperti salah pilih pemimpin, dapat dilihat perbedaan signifikan dampak kesalahan masyarakat ini.

Jokowi, terlalu dicintai oleh masyarakat. Fenomena fanatisme pendukung Jokowi ini mengingatkan saya pada masa pemerintahan awal Soekarno. Begitu besar rasa cinta rakyat terhadap Presiden pertama Indonesia ini hingga kini Soekarno masih dikagumi banyak orang. Namun yang kita lupakan adalah bagaimana Soekarno membawa Indonesia merdeka di bawah asuhan Jepang, dan bukannya merdeka 100% sebagaimana yang diinginkan pejuang revolusi pada masa tersebut. Masyarakat seperti dibutakan oleh fanatisme hingga membenarkan setiap tindakan Soekarno. Hingga kini Soekarno masih dipuja, seolah 21 tahun menjabat sebagai Presiden tanpa kemajuan yang diharapkan, adalah hal biasa.

Membayangkan fanatisme seperti ini terjadi lagi adalah hal yang sangat menakutkan. Kita tidak lagi menjadi objektif, karena yang dicintai bukan lagi pemikiran melainkan kepribadian sang pemimpin. Sayang, selayaknya orang sedang jatuh cinta, para pendukung Jokowi tentu tidak akan mengindahkan pandangan-pandangan yang seolah menyudutkan pujaan hatinya.

Lalu bagaimana dengan Prabowo? Apakah kita akan memilih orang yang merupakan dalang atas penculikan para aktivis 97-98? Apakah kita rela dipimpin oleh seseorang yang tampaknya akan bersikap otoriter jika diberikan kesempatan memimpin?

Agar menjaga konsistensi dan tidak melebarnya tulisan ini, saya tidak akan membahas kasus penculikan yang melibatkan nama Prabowo. Saya hanya akan memaparkan kemungkinan terburuk jika ternyata, saya, dan sekian banyak orang lainnya salah memilih Prabowo menjadi Presiden Republik Indonesia.

Kemungkinan terburuk dari pemerintahan yang makin korup dan kacau jika dipimpin Prabowo adalah bangkitnya semangat revolusi kaum proletariat yang seharusnya muncul dan diselesaikan pada masa reformasi 98. Semakin banyak masyarakat yang meragukan kemampuan Prabowo memimpin, maka kita akan menjadi semakin kritis. Setiap kebijakan, setiap pergerakan pemerintah, akan diawasi langsung oleh rakyat. Kemudian saat pemerintahan tidak lagi bisa diharapkan dan semakin parah, maka revolusi akan kembali terjadi. Sesuai teori Karl Marx yang juga dianut oleh Tan Malaka, tekanan-tekanan terhadap kaum kelas bawah akan membangkitkan semangat revolusi yang akhirnya menyingkirkan kaum-kaum borjuis dan kapitalis. Saat revolusi terjadilah, masyarakat akan mengusung wakil rakyat yang juga berasal dari kaum kelas bawah (dikenal dengan istilah diktator proletariat) yang nantinya akan menyusun ulang negara sebelum diserahkan kepada pemerintah yang baru dan bersih dari kaum borjuis.

Dalam bahasa yang paling sederhana saya rangkum. Kemungkinan terburuk jika Jokowi ternyata bukanlah pemimpin yang baik, seperti orang jatuh cinta pada umumnya, maka rakyat akan mencari pembenaran atas kesalahan-kesalahannya dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk akhirnya tersadar bahwa kita telah salah memilih. Lain halnya jika Prabowo terpilih menjadi Presiden dan ternyata tidak becus menjalankan semua janjinya, tak akan sulit mentransformasi kekuatan rakyat sebagai senjata untuk menjatuhkannya.

Ketika pembaca mulai bertanya-tanya seberapa kuat landasan opini yang baru saya paparkan di atas, jawabannya sangat sederhana. Lihatlah ke sekeliling kita, lihat orang-orang terdekat kita yang sebelumnya sama sekali tidak peduli terhadap politik. Para pendukung Jokowi, adalah contoh paling konkrit. Orang-orang yang sama sekali tidak paham politik hingga para pemuda dari kaum intelek, yang 5 tahun lalu tak berkomentar soal pemilu, kini berkoar-koar begitu lantang menyuarakan dukungan bagi Jokowi karena begitu tak ingin Prabowo menjadi Presiden.

Apa yang dilakukan orang-orang ini? Mereka mencari tahu, mereka membaca sejarah dan riwayat. Saya yakin, banyak dari orang-orang yang dulu tak pernah dan tak mau tahu kasus penculikan aktivis, kini mulai mengenal siapa Widji Tukul. Ini, adalah sebuah bukti, sebuah pembenaran. Bahwa diakui atau tidak, keberadaan Prabowo di bangku (calon) penguasa, telah menggerakkan tangan masyarakat secara perlahan untuk ikut menyetir negara. Dan ini, adalah awal mula penerapan Demokrasi yang nyata.

[Jakarta, 5 Juni 2014]

Biru

Malam tadi kulihat kamu menjelma dalam kilatan binar-binar cahaya. Suara gegap tawamu menggema seperti dentum bass yang menggelegar, membuatku perlahan hilang sadar.

Lipatan sofa yang sejak beberapa jam lalu kududuki, menggarisi kerut dahimu saat kita sibuk bertanya-tanya tentang masa lalu yang pahit dan membebani.

Mirip laut yang dinaungi teduh, membawa suara ombak sayup-sayup menepi. Ingatanku melompat lincah dari satu kenangan ke lainnya, senada dengan ketukan jari yang gelisah di atas meja kayu.

Aku diingatkan pada kehilangan, oleh sisa rasa pahit yang menggantung di pangkal lidah, bekas dilalui alkohol beraroma tajam.

Aku diingatkan pada perjuangan menjadi manusia, oleh mereka yang memuja gegap gempita dan lupa caranya menikmati hidup sederhana.

Aku diingatkan padamu, oleh rindu yang pelan-pelan menabung jumlah di sudut-sudut tak terlihat mata.

###

In memoriam of Sekar Wulan Sari.

[Jakarta, 25 April 2014]

Romantika Jalan Bulan

Kulirik sekilas jam dinding yang tergantung. Mengintip melalui sela-sela rambutmu. Sambil tetap berkonsentrasi menikmati afeksi yang datang dari pertemuan dua bibir. Nafas kita mulai berat. Udara dingin di luar membuat berpelukan menjadi terasa lebih hangat. Tanganmu bergetar ketika mengusap pelan pipiku. Rasa-rasanya aku ingin menyetubuhi batinmu. Bukan, bukan tubuhmu.

Karena ketika bibir itu menyentuh milikku, tak kurasa apa-apa selain hangat yang menusuk bagian rusuk dada sebelah kiri. Entah apa namanya, kau tahu aku tak pernah ahli di bidang IPA. Kepalamu bergerak perlahan meninggalkan bibirku yang entah bagaimana mulai terasa kebas akibat aktivitas berlebihan.

Kau menggigiti telinga bagian kananku. Berbisik di sana dengan samar. Aku tak begitu dengar. Tapi setangkap, kurasa kau menyebut, sayang. Aku memelukmu kuat. Erat.

“Bisa, kita begini saja seterusnya?” tanyamu sambil mengistirahatkan kepala di pundakku.

“Tidak bekerja, tidak bersosialisasi, di kamar saja, berpelukan. Sudah?” balasku.

“Kamu masih saja pemimpi. Sama seperti SMA dulu,” lanjutku sambil menghirup aroma parfum di lehermu.

Kau menjawab dengan gumam dan helaan nafas. Kukecup keningmu, lembut, kau bilang. Bergerilya bibirku menjajah mata dan setiap inchi bagian wajahmu. Biasanya kau akan mengeluh wajahmu bau liur bertaburan. Aku tak peduli, paling hanya tertawa. Aku tahu kau suka.

Malam semakin tinggi ketika kita akhirnya berdiri dan bergegas meninggalkan ruang kotak ini. Kau menarik kursi meja rias dan memanjatnya. Berdiri lalu menarikku mendekat. Menciumku tepat di dahi.

“Repot sekali kalau setiap hari harus begini. Untuk menciummu pun aku harus memanjat kursi,” katamu mengeluh. Aku menanggapi dengan tertawa. Kita berpelukan untuk kesekian kalinya.

Di pinggir sebuah jalan sepi kau kuturunkan. Tidak ada pelukan, tidak ada kecupan. Karena akan terkesan seperti perpisahan. Kita benci itu. Kau hanya melambai sekilas sambil tersenyum memamerkan lesung pipi di kedua sisi. Aku membalas dengan angguk sekilas dan senyum tipis. Kuambil sebuah cincin emas yang kusimpan di dashboard mobil. Memakainya lagi di jari manis tangan kiri.

Kulihat melalui kaca spion tengah, kau sudah berjalan cukup jauh menghilang di balik tikungan, menuju perempatan. Bergabung bersama teman-teman seperjuanganmu di sana. Kuketik sebuah pesan singkat,

Sampai ketemu bulan depan. Aku pasti datang.

Terkirim. Kupijak gas dan mobil perlahan maju meninggalkan tempat ini.

***

[Stabat, 21 Agustus 2010]

Review Macaroon Love; Kisah Manis Banyak Warna

Apa rasanya membenci namamu sendiri selama 23 tahun? Apa rasanya tumbuh besar bersama seorang nenek dan seorang sepupu yang tampang dan tingkah laku supelnya dapat mengintimidasi? Apa rasanya kehilangan ibu kandung dan hanya mengenal sosok seorang ayah yang cuma ada di hidupmu selama 2 bulan setiap tahunnya? Lalu, apa rasanya berada di ujung tanduk dalam pencarian jati diri, dan menemukan semua jawaban yang kamu cari melalui mata seorang pria tampan mirip pangeran dan terlalu indah untuk menjadi nyata?

Tidak akan ada yang benar-benar tahu rasanya kecuali seorang Magali. Benar, perempuan beruntung namun merasa buntung tersebut bernama, Magali. Tokoh sentral dalam novel karya Winda Krisnadefa yang berjudul Macaroon Love.

sinopis novel Macaroon Love

sinopis novel Macaroon Love

Seperti novel pop pada umumnya, novel ini juga membawa tema ringan seperti pencarian jati diri dan penemuan cinta sejati. Namun novel kedua dari sepanjang sejarah karya tulis Winda Krisnadefa ini memiliki cukup banyak kekurangan. Unsur intrinsik pembentuk novel yang diolah terasa kurang matang.

Meski tokoh Magali sebagai protagonis ditampilkan dengan cemerlang dan konsistensi karakteristiknya terjaga dari awal halaman hingga akhir buku, namun absennya tokoh antagonis dalam buku ini menjadi salah satu penyebab utama kenapa plot dan alur cerita terasa datar.

Formula, protagonis mencoba mencapai tujuannya – dihadang oleh hambatan – bertemu tokoh yang menentang tujuannya (antagonis) – muncul konflik – penyelesaian konflik – penentuan akhir apakah si protagonis mencapai tujuannya atau tidak, tentu dibuat dengan satu tujuan. Meski bukan ukuran baku untuk menentukan kualitas, namun, formula tersebut diperlukan agar plot dan alur tergiring dengan baik.

Ketiadaan tokoh Antagonis dalam Macaroon Love membuat motif protagonis, menjadi abu-abu. Apa yang sebenarnya ia inginkan? Memiliki hidup yang normal? Pekerjaan yang mapan? Jatuh cinta? Atau sesederhana menemukan jati dirinya? Ketidakjelasan motif ini membuat pembaca sulit mengidentifikasi tokoh Magali.

Unsur pembentuk novel lain yang tidak maksimal adalah latar belakang. Setting waktu dan tempat terjadinya cerita terasa kurang nyata. Di sinilah kemampuan menulis deskriptif diperlukan oleh seorang penulis. Karena hanya dengan deskripsi yang baik, penulis dapat menarik pembaca untuk turut masuk dalam cerita.

Meski begitu, gaya bahasa Winda Krisnadefa dalam bercerita patut mendapat acungan jempol. Sang penulis tidak berusaha membuat pembaca merasa bodoh dengan istilah-istilah pintar yang tak diperlukan (seperti kebanyakan penulis saat ini). Susunan kalimat yang digunakan tidak bertele-tele dan sangat efektif.

Kemampuan untuk mengemas kisah roman berlatar kuliner juga merupakan kelebihan yang patut diapresiasi. Dari membaca sudah dapat dibayangkan proses riset yang harus dilakukan seorang Winda Krisnadefa untuk dapat membawanya ke dalam sebuah karya tulis.

macaroon love

“Kisah dalam novel ini memang dilabeli kisah roman. Tapi saya berharap pembaca bisa mendapatkan lebih dari sekadar kisah cinta antara anak manusia saja setelah membaca ini.”

Paragraf terakhir halaman terimakasih ini mengganjal di kepala saya saat mulai membaca hingga saya menutup buku Macaroon Love. Benar saja, terlepas dari pesan tentang be true to yourself, saya justru menangkap pesan berbeda melalui kekaguman Magali terhadap Ammar. Di mana semua definis tentang Ammar mengingatkan saya kepada sosok Jodhi, ayah Magali. Hal ini membawa saya pada kesimpulan, mungkin si penulis ingin mengatakan bahwa seaneh apa pun hubungan antara seorang anak perempuan dan ayahnya, tak dapat dipungkiri bahwa, Ayah akan selalu menjadi cinta pertama dari setiap anak perempuannya.

***

[Jakarta, 29 Juli 2013]

***

Promo Smartfren Juli 2013

Review Film; The Conjuring

Dengan segala komentar orang-orang yang sudah menonton dan sistem promosi yang mengelu-elukan betapa menakutkannya film ini. Mengingat bagaimana Hollywood sangat pintar membuat gimmick yang membuat orang tertarik untuk menonton film-film horror terlaris beberapa tahun belakangan. Rasanya susah buat gue untuk tidak skeptis terhadap The Conjuring.

Tapi setelah duduk selama 120 menit dan menyaksikan film arahan James Wan ini, gue ngerti kenapa The Conjuring mendapat rating R. Yep, bukan karena adegan-adegan eksplisit atau content yang terlalu vulgar, The Conjuring mendapat rating R karena terlalu seram.

Anehnya, selalu aja ada orang-orang tua yang membawa anaknya yang masih kecil untuk menonton film-film macam ini. Malam tadi, waktu gue nonton midnight di TIM, ada satu keluarga mulai dari Ayah, Bunda sampai tante dan dua anak kecil yang ikut nonton The Conjuring. Mereka adalah keluarga bahagia, yang saking bahagianya dari awal film sampai akhir mereka gak bisa berhenti teriak, terus ketawa karena mereka teriak, komentar, teriak lagi, ketawa lagi, dan seterusnya.

Apakah keberadaan mereka mengganggu? Iya, awalnya. Tapi ternyata setelah 15 menit sejak film dimulai, The Conjuring mampu mengalihkan seluruh perhatian gue dari keluarga cemara ini.

The Conjuring diangkat berdasarkan kisah nyata. Film ini bercerita tentang sepasang suami istri yang berprofesi sebagai pemburu iblis, Ed & Lorraine Warren. Mengambil latar belakang tahun ’70an di mana kedua suami istri ini tengah berjaya, The Conjuring menyorot sebuah kasus yang pernah mereka tangani. Di mana dalam kasus tersebut mereka membantu sebuah keluarga dengan lima anak perempuan manis yang secara tragis pindah ke rumah yang dulunya adalah milik seorang dukun pemuja setan.

The Conjuring memiliki semua unsur horror klasik di dalamnya. Mulai dari keluarga bahagia, keluarga yang terganggu oleh keberadaan “penghuni” rumah yang jahat, orang kerasukan, rukiyah ala katolik, pemburu iblis yang mencoba menangkap wujud iblis melalui kamera dan suara. James Wan, sang sutradara, meramu resep lama tersebut menjadi sesuatu yang benar-benar menakjubkan.

The Conjuring adalah film pertama yang bisa membuat gue ketakutan saat nonton. Biasanya, di film-film horror lain, gue bisa dengan mudah mendoktrin diri gue, “ini cuma film!” dan membebaskan pikiran gue dari rasa takut. Tapi semua komponen pembentuk The Conjuring berhasil menjerat gue masuk dan tinggal di dalam cerita sepanjang film. Bahkan keluarga cemara di belakang gue pun tidak lagi terasa mengganggu.

Gue selalu setuju dengan pendapat, bahwa film adalah sebuah karya audio-visual dan kesuksesan sebuah film dipegang oleh 2 unsur tersebut. Gue meyakini bahwa film yang baik adalah film yang jika ditonton tanpa suara atau jika dinikmati hanya dengan suara tanpa visual, harus tetap dapat membawa efek dan meninggalkan kesan yang sama. Awalnya gue sempat ragu terhadap teori ini karena dari sekian banyak film bergenre apa pun yang gue tonton, tidak ada yang bisa meninggalkan efek dan kesan tersebut jika audio dan visualnya dinikmati secara terpisah. Namun The Conjuring membuat gue kembali yakin bahwa teori tersebut memang benar adanya. Gue yakin, ketika menikmati The Conjuring tanpa suara atau mendengar audio The Conjuring tanpa melihat visualnya, penonton tetap bisa melompat dari kursi dan merasakan ketakutan setelah selesai.

Tidak banyak adegan mengejutkan di film ini, tetapi penonton akan dibuat menahan napas dengan suspense-suspense yang membuat kita sulit untuk tidak merinding. The Conjuring dengan suksesnya berhasil mengaplikasikan sebuah trik film horror yang paling lawas namun paling menjanjikan yaitu, menakut-nakuti penonton, bukan pemain.

Jadi kalau lo mendaulat diri sebagai pecinta film horror, pergilah ke bioskop dan nonton The Conjuring. Lo akan dengan mudah menyetujui pendapat  bahwa The Conjuring adalah film horror terbaik karya sineas Hollywood dalam satu dekade terakhir dan mungkin, beberapa tahun ke depan.

Point: 10/10.

***

[Jakarta, 21 Juli 2013]

Gambar

Freejump

 

freejumpsmall

 

Remember when life used to be this easy and fun?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.